MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PERKULIAHAN STATISTIKA MELALUI PEMBELAJARAN TUTORIAL TGT PADA MAHASISWA JURUSAN MATEMATIKA
A. JUDUL PENELITIAN : MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PERKULIAHAN STATISTIKA MELALUI PEMBELAJARAN TUTORIAL TGT PADA MAHASISWA JURUSAN MATEMATIKA
B. BIDANG ILMU : MIPA
C. PENDAHULUAN
Matematika adalah ilmu tentang struktur yang terorganisasikan dengan baik. Mempelajari matematika tidak lepas dari penelaahan bentuk-bentuk atau struktur-struktur yang abstrak, kemudian kita mencoba mempelajarinya dengan mencari hubungan-hubungan antara hal-hal ini. Untuk dapat memahami struktur-struktur serta hubungan-hubungannya, kita perlu memahami konsep-konsep yang ada dalam matematika itu. Hal ini berarti belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur yang terdapat dalam bahasan yang dipelajari serta berusaha mencari hubungan-hubungannya. Suatu kebenaran matematika dikembangkan berdasarkan alasan logis. Namun cara kerja matematika terdiri dari observasi, menebak dan merasa, menguji hipotesa, mencari analogi, dan sebagainya. Matematika dimulai dari unsur-unsur yang tak didefinisikan berkembang ke unsur-unsur yang didefinisikan terus ke aksioma atau postulat sampai ke dalil-dalil. Dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan, unsur-unsur yang didefinisikan dan aksioma-aksioma terbentuklah dalil-dalil atau teori-teori yang kebenarnnya berlaku secara umum dan kebenarannya tersebut dapat dibuktikan secara deduktif. Jadi, jelas bahwa walaupun matematika itu disusun, berkembang dan ditemukan secara induktif dari observasi, coba-coba, eksperimen, dan sebagainya. Namun begitu pola atau dalil itu ditemukan maka kebenarnnya harus dapat dibuktikan secara umum atau secara deduktif. (Karso, 1993: 4). Dalam matematika, suatu generalisasi, sifat, teori atau dalil belum dapat diterima kebenarannya sebelum dapat dibuktikan secara deduktif. Penarikan kesimpulan dalam matematika harus hati-hati tidak cukup hanya memberikan contoh-contoh saja atau memperhatikan pola-pola tertentu saja, tetapi harus dibuktikan secara deduktif.
Matakuliah wajib yang diberikan pada DI Jurusan Matematika Matematika adalah antara lain : Statistika Matematika I dan II (Statistika Matematika I pada Semester Genap dan Statistika Matematika II pada Semester Ganjil) . Tujuan matakuliah tersebut adalah : mahasiswa dapat menjelaskan landasan matematis dan membuktikan teorema-teorema dari statistika inferensial, serta menggunakan konsep-konsep dan teorema-teorema itu untuk memecahkan masalah. Statistika Matematika melandasi pengertian-pengertian dan konsep-konsep dalam Statistika Dasar dan Statistika Penelitian yang pada akhirnya sangat dibutuhkan untuk penyusunan skripsi. Di Jurusan Matematika UNNES.
Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah, kita tidak bisa lagi mempertahankan paradigma lama yaitu teacher centre (dosen memberikan pengetahuan kepada mahasiswa yang pasif). Tetapi hal ini nampaknya masih banyak diterapkan di ruang-ruang kuliah dengan alasan pembelajaran seperti ini adalah yang paling praktis dan tidak menyita waktu . Pendidik perlu menyusun dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar berdasarkan beberapa pokok pikiran baru, antara lain : 1). pengetahuan ditemukan, dibentuk dan dikembangkan oleh mahasiswa (Piaget (1960) dan Freire (1970) dalam Lie, 2002), (2). mahasiswa membangun pengetahuan secara aktif (Piaget (1960) dan Anderson (1982) dalam Lie, 2002), (3). Pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan mahasiswa ( Maslow (1962) dan Rogers (1982) dalam Lie, 2002), (4). pendidikan adalah interaksi pribadi antara mahasiswa dengan mahasiswa dan antara dosen dengan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan mencobakan strategi dan metode pembelajaran kooperatif yang memanfaatkan potensi dan eksistensi mahasiswa lain untuk membantu mahasiswa yang kurang dari segi akademis, kurang motivasi, minat, kurang aktif, kurang terarah dalam belajar dan sebagainya, sehingga dalam diri mahasiswa tertanam minat yang meningkat terhadap hal-hal yang dipelajari, sikap positif terhadap proses belajar mengajar, tumbuhnya sikap percaya diri dan terbinanya kesehatan mental yang penting bagi perkembangan mahasiswa. Dengan meningkatnya kemampuan individu maka akan meningkat pula rata-rata kelas akibatnya nilai yang diperoleh mahasiswa menjadi lebih berbobot. Dalam penelitian ini akan diterapkan strategi pembelajaran tutorial TGT (Teams Games Tournament) untuk membantu mahasiswa yang “lemah” menyelesaikan soal-soal sulit dengan memanfaatkan teman-temanya yang lebih pandai dan meningkatkan semangat belajarnya serta kepercayaan dirinya, untuk pembuktian teorema.
Banyak penelitian tentang pembelajaran kooperatif yang pada umumnya hasil-hasil penelitian ini mendukung pembelajaran kooperatif untuk diterapkan terutama pada mahasiswa (manusia dewasa). Data-data tersebut menunjukkan bahwa suasana belajar Cooperative Learning menghasilkan prestasi yang lebih tinggi, hubungan yang lebih positif dan penyesuaian psikologis yang lebih baik daripada suasana belajar yang penuh dengan persaingan dan memisah-misahkan mahasiswa. (Johnson & Johnson, 1989 dalam Lie, 2002. h. 7).
Strategi yang paling sering digunakan dosen untuk mengaktifkan mahasiswa adalah melibatkan mahasiswa dalam diskusi dengan seluruh kelas. Tetapi strategi ini tidak terlalu efektif walaupun dosen sudah berusaha dan mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi. Kebanyakan mahasiswa terpaku menjadi penonton sementara arena kelas dikuasai hanya segelintir orang. Suasana kelas perlu direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi satu sama lain. Dalam interaksi ini mahasiswa akan membentuk komunitas yang memungkinkan mereka untuk mencintai proses belajar dan mencintai satu sama lain. Dalam suasana belajar yang penuh persaingan dan pengisolasian mahasiswa, sikap dan hubungan negatif akan terbentuk dan mematikan semangat siswa. Suasana seperti ini akan menghambat pembentukan pengetahuan secara aktif. Oleh karena itu dosen perlu menciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga mahasiswa bekerja sama secara gotong royong. Dalam penelitian ini akan diamati penerapan metode pembelajaran Tutorial TGT pada perkuliahan Statistika Matematika di Jurusan Matematika UNNES.
D. PERUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana realisasi pembelajaran tutorial TGT jika diterapkan pada perkuliahan Statistika Matematika pada program studi Pendidikan Matematika UNNES ?
2. Bagaimana suasana (dari aspek mahasiswa, dosen dan kelas) yang menyertai proses belajar mengajar pembelajaran tutorial TGT pada perkuliahan Statistika Matematika di jurusan Matematika UNNES ?
3. Bagaimana hasil belajar, umpan balik dan hasil evaluasi proses belajar pembelajaran kombinasi pembelajaran tutorial TGT pada perkuliahan Statistika Matematika di jurusan Matematika UNNES ?
4. Sejauh mana pembelajaran tutorial TGT dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa ?
5. Sejauh mana pembelajaran tutorial TGT dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa ?
E. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
Tujuan Umum : menambah wawasan dosen tentang strategi pembelajaran matematika bagi mahasiswa, meningkatkan motivasi dan semangat mahasiswa dalam belajar, melatih mahasiswa untuk bertanggung jawab terhadap proses belajar temannya serta mengembangkan kebiasaan dan budaya kerja sama dan belajar dalam kelompok.
Tujuan Khusus :
1. mengetahui realisasi pembelajaran tutorial TGT jika diterapkan pada perkuliahan Statistika Matematika di jurusan Matematika UNNES ?
2. mengetahui suasana (dari aspek mahasiswa, dosen dan kelas) yang menyertai proses pembelajaran tutorial TGT pada perkuliahan Statistika Matematika di jurusan Matematika UNNES ,
3. mengetahui hasil belajar, umpan balik dan hasil evaluasi proses pembelajaran tutorial TGT pada perkuliahan Statistika Matematika di jurusan Matematika UNNES,
4. mengetahui sejauh mana pembelajaran tutorial TGT dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa ,\
5. mengetahui sejauh mana pembelajaran kombinasi pembelajaran tutorial TGT dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa ,
F. TINJAUAN PUSTAKA
1. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong mahasiswa aktif menemukan sendiri pengetahuaanya melalui ketampilan proses. Mahasiswa belajar dalam kelompok kecil yang kemampuannya heterogen. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota aling bekerja sama dan membantu dalam memahami suatu bahan ajar. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan saling membantu teman sekelompok mencapai ketuntasan. (Slavin, 1995 : 73). Agar mahasiswa dapat bekerjasama dengan baik didalam kelompoknya maka mereka perlu diajar ketrampilan-ketrampilan kooperatif sebagai berikut :
Berada dalam Tugas
Yang dimaksud adalah tetap berada dalam kerja kelompok, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya sampai selesai dan bekerja sama dalam kelompok sesuai dengan kesepakatan kelompok, ada kedisiplinan individu dalam kelompok. Dengan melatih kedisiplinan tersebut, mahasiswa akan menyelesaikan tugasnya dlam waktu yang tepat dengan ketelitian yang baik.
Mengambil Giliran dan Berbagi Tugas
Yaitu bersedia menerima tugas dan membantu menyelesaikan tugas. Ketrampilan ini penting karena kegiatan akan selesai pada waktunya dan kelompk akan lebih bangga terhadap peningkatan efektivitas dalam mempersiapkan tugas-tugas yang diemban.
Mendorong Partisipasi
Yaitu memotivasi teman sekelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok. Hal ini penting karena anggota kelompok akan merasa bahwa kontribusi mereka amat dibutuhkan, dan mereka merasa dihargai yang selanjutnya akan menumbuhkan rasa percaya diri.
Mendengarkan dengan Aktif
Yang dimaksud adalah mendengarkan dan menyerap informasi yang disampaikan teman dan menghargai pendapat teman. Ketrampilan ini penting sebab mendengarkan dengan aktif berarti memberi perhatian pada yang sedang berbicara sehingga anggota kelompok yang jadi pembicara akan merasa senang dan akan menambah motivasi belajar bagi dirinya sendiri dan yang lain.
Bertanya
Ketrampilan bertanya yang dimaksud adalah menanyakan informasi atau penjelasan lebih lanjut dari teman sekelompok, kalau perlu didiskusikan, apabila tetap tidak ada pemecahan, tiap anggota kelompok wajib mencari pustaka yang mendukung, jika tetap tidak terselesaikan baru bertanya kepada dosen.
2. Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan efektif, unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang perlu ditanamkan pada mahasiswa adalah sebagai berikut :
1. Para mahasiswa harus memiliki persepsi bahwa mereka tenggelam dan berenang bersama.
2. Para mahasiswa memiliki tanggungjawab terhadap mahasiswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggungjawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
3. Para mahasiswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.
4. Para mahasiswa harus membagi tugas dan berbagi tanggungjawab sama besar diantara para anggota kelompok.
5. Para mahasiswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yangakan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6. Para mahasiswa berbagi kepemimpinan, sementara mereka memperoleh ketrampilan bekerjasama selam belajar.
7. Para mahasiswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
3. Landasan Pembelajaran Kooperatif
Teori motivasi adalah teori yang mendasari pembelajaran kooperatif, mahasiswa yang bekerja dalam kelompok kooperatif belajar lebih banyak daripada kelas yang diorganisasikan secara tradisional (Slavin, 1995 : 16). Menurut teori motivasi, motivasi mahasiswa pada pembelajaran kooperatif terutama terletak pada bagaimana bentuk struktur pencapaian saat mahasiswa melaksanakan kegiatan. Terdapat tiga struktur pencapaian tujuan seperti berikut ini:
i. Kooperatif, setiap upaya berorientasi pada tujuan tiap individu menyumbang pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika mahasiswa lain mencapai tujuan tersebut.
ii. Kompetitif, setiap upaya berorientasi pada tujuan tiap individu membuat frustasi pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika mahasiswa lain tidak mencapai tujuan tersebut.
iii. Individualistik, tujuan tiap individu tidak memiliki konsekuensi terhadap pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa meyakini upaya mereka sendiri untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan teori motivasi tersebut, struktur pencapaian tujuan kooperatif menciptakan situasi dimana keberhasilan individu dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang dnginkan pada pembelajaran kooperatif anggota kelompok harus saling membantu satu sama lain untuk keberhasilan kelompoknya dan yang lebih penting adalah memberi dorongan pada anggota lain untuk berusaha mencapai tujuan yang maksimal.
4. Pembelajaran Kooperatif TGT
Sesuai dengan namanya, model TGT ini mengandung kegiatan-kegiatan yang bersifat permainan. Secara umum peran guru dalam model ini adalah memacu siswa agar lebih serius dan semangat , kemudian membandingkannya dengan prestasi siswa (kelompok ) lain. Dengan demikian dapat ditentukan kelompok mana yang berhasil mencapai prestasi yang paling baik. Pembelajaran Kooperatif TGT ini merupakan hasil modifikasi Pembelajaran Tutorial TGT dimana pada saat diskusi kelompok didesain kelompok-kelompok kooperatif yang diberi istilah model diskusi “berpikir-berpasangan-berempat” atau think-pair-square, yang dikembangakn oleh Frank Lyman dan Spencer Kagan (Lie, 2002 : 56). Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut ini.
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TGT
Aktivitas Guru
Aktivitas Murid
1. Pendahuluan
a. Pembelajaran klasikal bersifat informatif.
b. Relevansi
c. Menyebutkan Tujuan Khusus
d. Menerangkan Langkah dan fungsi TGT.
e. Membentuk 4 orang per kelompok.
f. Memandu siswa dalam kelompok.
g. Memilih Koordinator (satu siswa dalam tiap kelompok, boleh dipilih oleh anggota kelompok, setiap siswa suatu saat harus jadi koodinator), yang bertugas mewakili jawaban kelompok pada sidang pleno.
Mendengarkan
2. Penyajian, guru mengorganisir dan memantau PBM
a. Menyiapkan beberapa pertanyaan / soal, yang sudah disiapkan jawabannya.
b. Mengorganisasikan diskusi kelompok “berpikir-berpasangan-berempat” (semua kelompok) untuk menjawab pertanyaannya.
c. Mengorganisir sidang pleno hasil temuan jawaban tiap-tiap kelompok yang diwakili oleh koordinator kelompok.
a. Setiap individu menjawab pertanyaan- pertanyaan untuk persiapan diskusi kelompok “berpikir-berpasangan-berempat”.
b. Mendiskusikan jawaban-jawaban pertanyaan dalam kelompok “berpikir-berpasangan-berempat” (per kelompok).
3. Penutup
a. Memberikan pertanyaan/ kuis yang sama kepada tiap tim untuk dikerjakan individu.
b. Koreksi hasil kuis.
c. Membuat skor.
d. Umpan balik/ tindak lanjut/ ulang lagi dari awal untuk topik selanjutnya
a. Mencari / menghitung ulang jawaban yang benar.
b. Siswa kembali ke kelompok asal/ mula-mula.
Teknik diskusi “berpikir-berpasangan-berempat” memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Keunggulan lain dari teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, teknik ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkatan usia anak. Langkah-langkah teknik ini adalah sebagai berikut.
a. Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok.
b. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
c. Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompoknya dan berdiskusi dengan pasangannya.
d. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan membagikan hasil kerjanya (kerjanya sendiri dan kerja berpasangan) pada kelompok berempat.
5. Penilaian Individu dan Penghargaan Kelompok
Dalam penilaian pembelajaran kooperatif siswa mendapat nilai pribadi maupun nilai kelompok. Siswa bekerjasama dengan metode gotong-royong, mereka saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk tes. Kemudian masing-masing mengerjakan tes sendiri-sendiri dan kemudian menerima nilai pribadi. Siswa harus menunjukkan kemampuannya setelah bekerja dalam kelompok dengan mengerjakan tes hasil belajar (post-test) secara individual. Hasil post-test sebagai nilai perkembangan individu dan untuk menentukan skor kelompok. Nilai kelompok dapat ditentukan dengan beberapa cara. Pertama nilai kelompok dapat diambil dari nilai terendah yang didapat oleh siswa dalam kelompok. Kedua, nilai kelompok juga bisa diambil dari nilai rata-rata nilai semua anggota kelompok, dari “sumbangan” setiap anggota. Kelebihan kedua cara tersebut adalah semangat gotong-royong yang ditanamkan. Dengan cara ini, kelompok bisa berusaha lebih keras untuk membantu semua anggota dalam mempersiapkan diri untuk tes. Namun kekurangannya adalah perasaan negatif dan tidak adil. Siswa yang mampu akan merasa dirugikan oleh rekannya yang nilainya rendah. Sedangkan siswa yang lemah mungkin akan merasa bersalah karena membuat nilai kelompoknya rendah.
Untuk menjaga perasaan-perasaan negatif tersebut ada cara lain yang dapat dipilih dan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu dengan aturan sebagai berikut.
SKOR POST-TEST
SUMBANGAN PADA NILAI KELOMPOK
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
5
1 s / d 10 poin di bawah skor awal
10
0 s / 10 di atas skor awal
20
10 atau lebih di atas skor awal
30
Nilai sempurna
30
Setelah satu siklus penilaian dilakukan perhitungan ulang untuk siklus berikutnya skor post-test sebagai skor awal baru.
G. KONTRIBUSI PENELITIAN
Hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan yang merupakan “self reflective teaching” ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi perorangan / institusi, sebagai berikut :
1) Bagi dosen : dengan dilaksanakannya penelitian tindakan ini, dosen dapat lebih mengetahui secara tepat, bertambah wawasan, lebih menghayati strategi pembelajaran kooperatif tipe TGT ini pada para mahasiswa.
2) Bagi mahasiswa : hasil penelitian tindakan kelas ini sangat menguntungkan mahasiswa karena mahasiswa adalah subyek langsung dari penelitian ini, yang dikenai tindakan, semestinya ada perubahan-perubahan dalam diri mahasiswa dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang lebih positif.
3) Bagi UNNES : hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada LPTK, khususnya UNNES dalam rangka perbaikan sistem pembelajaran matematika.
4) Bagi khasanah pendidikan : memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif meningkatkan kualitas pendidikan di Perguruan Tinggi.
H. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif Jigsaw-II dan TGT bagi mahasiswa UNNES.
1. Subyek Penelitian
Subyek Penelitian ini adalah mahasiswa jurusan matematika UNNES.
2. Pihak yang Terlibat
Pihak yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa jurusan matematika UNNES dan dosen pengampu serta dosen peneliti.
3. Rancangan Penelitian
e. Faktor Yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan diatas, ada beberapa faktor yang akan diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah :
· Faktor mahasiswa : Akan diselidiki kondisi awal mahasiswa dengan menggunakan pre-tes atau kuis sebelumnya untuk penempatan siswa dalam kelompok agar dalam satu kelompok ada yang pandai, sedang dan kurang, sejauh mana keterlibatan dan partisipasi siswa dalam proses belajar individual dan kelompok diamati dengan pedoman pemantauan proses, dan diselidiki ada tidaknya kenaikan hasil belajar mahasiswa (membandingkan pos-tes target indikator kinerja) setelah diterapkan strategi pembelajaran Kooperatif Tipe TGT secara individu maupun kelompok (skor kelompok).
· Faktor Dosen : Mengamati kinerja dosen sebagai perencana, fasilitator, koordinator dan evaluator program perkuliahan Kooperatif Tipe TGT, diamati dengan pedoman observasi sistematis.
f. Rencana Tindakan
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri 3 siklus . Tiap siklus dilaksanakan mulai perencanaan, persiapan tindakan , pelaksanaan tindakan , pemantauan, evaluasi individu dan kelompok serta refleksi tindakan, analisis dan dilakukan penyimpulan-penyimpulan. Siklus I adalah penerapan pembelajaran kooperatif Jigsaaw II, siklus II adalah penerapan pembelajaran kooperatif TGT, kemudian dilakukan perbandingan antara keduanya untuk mencari metode yang lebih tepat untuk diterapkan pada pembelajaran matematika siswa SMU dan pada siklus ketiga dilakukan penyempurnaan metode yang terpilih untuk diterapkan sekali lagi dengan beberapa perubahan dan modifikasi sesuai kebutuhan. Setiap siklus melalui pentahapan-pentahapan sebagai berikut :
SIKLUS I :
1) Perencanaan
· Menyusun tujuan perkuliahan untuk Siklus I.
· Membuat rancangan/ skenario perkuliahan.
· Menyusun tes untuk Siklus I.
· Mendesain Pedoman Pemantauan perkuliahan untuk individu maupun kelompok.
· Mendesain Pedoman Observasi Sistematis bagi kinerja dosen selama Pelaksanaan Tindakan.
2) Persiapan Tindakan
· Analisis nilai IPK atau kuis untuk menempatkan mahasiswa dalam kelompok kooperatif.
· Menyuruh setiap mahasiswa menyiapkan soal untuk perannya sebagai tutor pada TGT.
· Mempersiapkan media dan alat bantu yang diperlukan.
· Memberikan pengarahan kepada mahasiswa tentang operasional perkuliahan dan tentang tugas yang akan diberikan.
3) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini :
· Melaksanakan rancangan perkuliahan.
· Presentasi dan diskusi kelompok sesuai dengan aturan main metode pembelajaran kooperatif TGT.
· Penilaian individu dan kelompok oleh dosen.
· Pos-tes untuk semua mahasiswa.
4) Observasi
Pada tahap ini, mahasiswa melakukan tindakan pembelajaran kooperatif dan dosen melakukan pemantauan (dengan Pedoman Pemantauan) terhadap kerja mahasiswa, sementara dosen lain (peneliti) mengamati kerja dosen pengampu sebagai fasilitator yang memberi tugas atau memandu mahasiswa dalam kelompok (dengan Pedoman Observasi Sistematis). Selanjutnya menganalisis nilai pos-tes terhadap target indikator Siklus I serta memberikan penilaian kelompok.
5) Analisis, Refleksi dan Evaluasi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh tim peneliti, kemudian dosen pengampu dapat merefleksi diri tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal dosen dan mahasiswa untuk siklus I.
SIKLUS II :
1) Perencanaan
· Menyusun tujuan perkuliahan untuk Siklus II.
· Membuat rancangan/ skenario perkuliahan.
· Menyusun tes untuk Siklus II.
· Mendesain Pedoman Pemantauan perkuliahan untuk individu maupun kelompok.
· Mendesain Pedoman Observasi Sistematis bagi kinerja dosen selama Pelaksanaan Tindakan Siklus II.
2) Persiapan Tindakan
· Analisis nilai tes siklus I untuk menempatkan mahasiswa dalam kelompok kooperatif baru atau tetap seperti pembagian kelompok siklus I.
· Menyuruh setiap mahasiswa menyiapkan soal untuk perannya sebagai tutor pada TGT.
3) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini :
· Melaksanakan rancangan perkuliahan.
· Presentasi dan diskusi kelompok sesuai dengan aturan main metode pembelajaran kooperatif TGT.
· Penilaian individu dan kelompok oleh dosen.
· Pos-tes untuk semua mahasiswa.
4) Observasi
Pada tahap ini, mahasiswa melakukan tindakan pembelajaran kooperatif dan dosen melakukan pemantauan (dengan Pedoman Pemantauan) terhadap kerja mahasiswa, sementara dosen lain (peneliti) mengamati kerja dosen pengampu sebagai fasilitator yang memberi tugas atau memandu mahasiswa dalam kelompok (dengan Pedoman Observasi Sistematis). Selanjutnya menganalisis nilai pos-tes terhadap target indikator Siklus II serta memberikan penilaian kelompok.
5) Analisis, Refleksi dan Evaluasi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh tim peneliti, kemudian dosen pengampu dapat merefleksi diri tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal dosen dan mahasiswa untuk siklus II. Pada akhir siklus kedua dilakukan analisis perbandingan untuk menentukan metode yang lebih baik dan merancang perkuliahan untuk siklus III.
SIKLUS III :
1) Perencanaan
· Menyusun tujuan perkuliahan untuk Siklus III.
· Membuat rancangan/ skenario perkuliahan.
· Menyusun tes untuk Siklus III.
· Mendesain Pedoman Pemantauan perkuliahan untuk individu maupun kelompok.
· Mendesain Pedoman Observasi Sistematis bagi kinerja dosen selama Pelaksanaan Tindakan.
2) Persiapan Tindakan
· Menyuruh setiap mahasiswa menyiapkan soal untuk perannya sebagai tutor pada TGT.
3) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini :
· Melaksanakan rancangan perkuliahan.
· Presentasi dan diskusi kelompok sesuai dengan aturan main metode pembelajaran kooperatif TGT.
· Penilaian individu dan kelompok oleh dosen.
· Pos-tes untuk semua mahasiswa.
4) Observasi
Pada tahap ini, mahasiswa melakukan tindakan pembelajaran kooperatif dan dosen melakukan pemantauan (dengan Pedoman Pemantauan) terhadap kerja mahasiswa, sementara dosen lain (peneliti) mengamati kerja dosen pengampu sebagai fasilitator yang memberi tugas atau memandu mahasiswa dalam kelompok (dengan Pedoman Observasi Sistematis). Selanjutnya menganalisis nilai pos-tes terhadap target indikator Siklus III serta memberikan penilaian kelompok.
5) Analisis, Refleksi dan Evaluasi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh tim peneliti, kemudian dosen pengampu dapat merefleksi diri tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal dosen dan mahasiswa untuk siklus III. Pada akhir siklus III dilakukan analisis perbandingan untuk siklus I, II dan III serta dilakukan penyimpulan-penyimpulan. Selanjutnya disusun laporan akhir.
5. Variabel Penelitian
Variabel-variabel dalam penelitian ini adalah :
Variabel 1 : Suasana yang menyertai proses belajar mengajar pembelajaran kooperatif TGT.
Variabel 2 : Umpan balik dan teknik evaluasi proses belajar pembelajaran kooperatif TGT.
Variabel 3 : Hasil belajar matematika mahasiswa setelah pembelajaran kooperatif TGT.
6. Instrumen Penelitian
Variabel 1 : Suasana yang menyertai proses belajar mengajar pembelajaran kooperatif TGT diamati dengan Lembar Observasi Terfokus untuk mahasiswa dan Lembar Observasi Sistematis untuk dosen.
Variabel 2 : Umpan balik dan teknik evaluasi proses belajar pembelajaran kooperatif TGT diungkap dengan hasil skor individu dan skor kelompok saat pembelajaran kooperatif.
Variabel 3 : Hasil belajar matematika mahasiswa setelah pembelajaran kooperatif TGT diukur dengan tes.
Lembar Observasi Terfokus untuk mahasiswa dan Lembar Observasi Sistematis untuk dosen, masing-masing itemnya diberi bobot 1 (kurang) ,2 (cukup) ,4 (baik) dan 5 (baik sekali). Bobot 3 (sedang) tidak ada, agar setiap penilaian ada kecenderungan dan setiap item diberi catatan untuk hasil pengamatan yang tidak dapat diangkakan, atau kejadian-kejadian yang tidak masuk dalam kategori item tertentu. Alat ukur Postes berupa paket soal yang terdiri dari 20 soal pilihan ganda dengan 5 alternatif jawaban, 5 essay dengan jawaban pendek dan 5 essay dengan jawaban panjang (terbuka) dengan alokasi waktu 90 menit.
7. Analisis Data
Untuk membandingakan hasil belajar matematika setelah pembelajaran kooperatif terhadap target yang ditetapkan dosen pengampu dipakai uji t. Analisis lembar observasi dibandingkan dengan jumlah skor dan catatan-catatan tambahan yang menjadi pertimbangan.
8. Indikator Kinerja
Indikator keberhasilan pembelajaran kooperatif TGT tidak dapat ditentukan sekarang, untuk siklus I ditentukan setelah diketahui baseline yaitu rata-rata IPK (yang dikonversi lagi ke angka untuk semester sebelumnya), untuk siklus II setelah diketahui capaian siklus I dan untuk siklus III setelah diketahui capaian siklus II.
DAFTAR PUSTAKA
Brookfield, S. 1984. Adult Learners, Adult Education and the Community. Teacher College Press. New York.
Houle, C. 1961. The Inquiring Mind. University of Madison Press. Madison.
Irawan, Prasetya. 1996. Beberapa Model Tutorial. Komunika Nomor 13. Hal. 6-7.
Johnson, David, Roger Johnson & Karl Smith 1991. Active Learning : Cooperation in the College Classroom. Interaction Book Company. Edina, MN.
Knowles, M. 1975. Self Directed Learning : A Guide for Learners and Teachers. Cambridge Adult Education. New York.
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning (Mempraktekkan Cooperative Learning di ruang-ruang kelas). Grasindo. Jakarta.
Lundgren, Linda. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom. Glencoe Macmillan Mc Graw Hill. Nem York.
Maryanto. 1998. Pembelajaran Gotong Royong dalam Pengajaran Sains, Matematika dan Bahasa. (Makalah Seminar Nasional Kerja Sama RECSAM Penang Malaysia dan IKIP Semarang). Semarang.
Paulina Pannen, Dr., Ida Malati S.,M.Ed., Drh. 1997. Pendidikan Orang Dewasa (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Paulina Pannen, Dr., Mestika Sekarwinahyu, Dra. 1997. Belajar Aktif . (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning. Second Edition. Allyn and Bacon Publisher. Massachusetts.
Suhito, Drs. 1987. Diagnosis Kesulitan Belajar. IKIP Semarang Press. Semarang
Tamat, T. 1985. Dari Pedagogik ke Andragogik : Pedoman bagi Pengelola Pendidikan dan Latihan. Pustaka Dian. Jakarta.
Tampilkan postingan dengan label PROPOSAL PENELITIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROPOSAL PENELITIAN. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 November 2008
PEMBELAJARAN “KOOPERATIF SEMI INDIVIDUAL” , SUATU ALTERNATIF MENGATASI KEBERAGAMAN KEMAMPUAN MAHASISWA DENGAN BIMBINGAN TUTOR SEBAYA
PEMBELAJARAN “KOOPERATIF SEMI INDIVIDUAL” , SUATU ALTERNATIF MENGATASI KEBERAGAMAN KEMAMPUAN MAHASISWA DENGAN BIMBINGAN TUTOR SEBAYA
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang diterapkan di Jurusan Matematika Prodi Pendidikan Matematika UNNES. Beberapa hal yang melatar belakangi masalah penelitian ini antara lain sebagai berikut.
1. Keluhan para dosen tentang kesulitan pengajaran beberapa matakuliah terutama matakuliah matematika murni seperti : Analisis Riil, Statistika Matematika, Persamaan Deferensial, Struktur Aljabar, dll, yang disebabkan heterogenitas kemampuan mahasiswa. Dalam mengajar dosen telah memiliki acuan mengenai isi (materi) perkuliahan, kecepatan mengajar (alokasi waktu), metode yang tepat untuk diterapkan yaitu yang tercantum dalam SAP, tetapi dosen masih kesulitan jika dihadapkan pada keberagaman kemampuan mahasiswa, terutama mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kemampuan rendah, yang lambat menyerap bahan kuliah. Sebaliknya terhadap mahasiswa-mahasiswa pandai, cerdas atau bahkan yang jenius apabila dosen mengajar dengan mengacu SAP tidak bermasalah apalagi ditunjang dengan beberapa karakter positif seperti kepribadian dewasa, tenang, stabil, tetapi cukup bermasalah bila perbedaan kemampuan mahasiswa dalam satu kelas sangat tajam. Mereka yang tergolong pandai lebih mandiri dan cenderung individual, kurang merasa terbeban untuk menularkan kemampuannya bagi yang kurang pandai. Sementara mahasiswa yang kurang pandai cenderung merasa malu dan enggan untuk bertanya pada temannya yang pandai. Belajar kelompok dan tutor sebaya hanya dapat berlangsung jika ada intervensi dari dosen, seperti hasil pengalaman PTK pada tahun 2001 dalam penelitian yang berjudul “Pembelajaran “Kooperatif Jigsaw” : Suatu Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Mahasiswa Pendidikan Matematika UNNES”, dalam penelitian ini masih dirasakan keberagaman kemampuan mahasiswa masih menghambat tercapainya ketuntasan belajar.
2. Kesulitan para dosen mengkonstruksi perkuliahan yang memperhatikan potensi dinamis para mahasiswanya tetapi juga mempertimbangkan sarana dan prasarana yang tersedia yang memungkinkan terselenggaranya perkuliahan yang memperhatikan individu-individu tersebut. Perkuliahan di Perguruan Tinggi di Indonesia hingga dewasa ini umumnya masih dilakukan secara klasikal (umumnya satu kelas lebih dari 30 mahasiswa, kecuali matakuliah pilihan dan matakuliah yang dimunculkan karena kurikulumnya sudah tidak berlaku tapi masih ada mahasiswa yang belum lulus) , sebab pengajaran klasikal merupakan pengajaran yang paling efisien dari aspek tenaga, biaya maupun waktu pelaksanaannya. Bentuk pembelajaran ini mampu menghadapi sekelompok peserta didik dalam suatu kelas yang relatif besar jumlahnya dengan tindakan yang sama, baik dari cara penyajian, penyediaan bahan atau materi yang disajikan, waktu pelaksanaannya maupun setting penyelenggaraannya. Pembelajaran klasikal memiliki kelemahan yaitu kurangnya perhatian bagi individu-individu yang memiliki kemampuan beragam.
3. Permasalahan yang dihadapi dosen dalam meningkatkan kualitas hasil belajar mahasiswa, khususnya optimalisasi kemampuan individual mahasiswa, maksimalisasi perolehan materi pelajaran, artinya kelompok mahasiswa yang pandai atau kemampuannya diatas rata-rata yang jika diajar dengan lama waktu yang sama sebenarnya dapat menyerap lebih banyak materi dari pada mahasiswa dalam kelompok kemampuan yang sedang atau kurang. Umumnya dosen mengajarkan materi perkuliahan menyesuaikan dengan rata-rata kemampuan kelas atau semaunya dosen, hal ini kadang-kadang menyebabkan kelompok mahasiswa yang berkemampuan dibawah rata-rata mengalami kesulitan menerima bahan kuliah atau bahkan sama sekali tidak terserap, tetapi jika persediaan waktu lebih longgar atau mahasiswa kelompok ini diajar dengan lebih lambat barangkali persentase penyerapan dapat ditingkatkan sesuai dengan kemampuaanya. Sebenarnya dosen mengerti kelebihan pengajaran individual, mengenai strategi, pengelolaan, setting atau lokasi pembelajaran, bentuk pembelajaran dan sebagainya, sebagai cara pemecahan masalah diatas, tetapi bila diterapkan pengajaran individual murni, hal ini tidak dimungkinkan, dosen terbentur pada ketersediaan tenaga, ruang, alat bantu belajar, media, waktu pengajaran, fasilitas Perpustakaan dan lain-lain, yang secara umum negara kita belum mampu menerapkan perkuliahan yang ideal ini seperti yang dilakukan di negara-negara maju. Penelitian ini mengupayakan alternatif pemecahan masalah yaitu dengan sarana dan prasarana yang ada, atau yang mampu diadakan akan mendekatkan sistem perkuliahan ke bentuk pengajaran individual, yang dalam hal ini kami sebut sebagai pengajaran “semi individual”.
4. Apabila ada mahasiswa yang gagal mencapai target minimal penguasaan materi perkuliahan, maka dinyatakan tidak lulus mata kuliah tersebut dan harus mengulang, demikian sampai akhirnya dapat mencapai target minimal. Untuk mengatasi masalah tersebut, kadang-kadang dosen menggunakan PAN (Penilaian Acuan Normal), yaitu menilai kemampuan mahasiswa relatif terhadap teman-temannya, sehingga jika seorang mahasiswa tertentu dengan kemampuan tertentu akan memiliki nilai yang berbeda jika dia masuk di dua kelas dengan rata-rata kepandaian yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mencobakan strategi dan metode pembelajaran kooperatif yang memanfaatkan potensi dan eksistensi mahasiswa lain untuk membantu mahasiswa yang kurang dari segi akademis, kurang motivasi, minat, kurang aktif, kurang terarah dalam belajar dan sebagainya, sehingga dalam diri mahasiswa tertanam minat yang meningkat terhadap hal-hal yang dipelajari, sikap positif terhadap proses belajar mengajar, tumbuhnya sikap percaya diri dan terbinanya kesehatan mental yang penting bagi perkembangan mahasiswa. Dengan meningkatnya kemampuan individu maka akan meningkat pula rata-rata kelas akibatnya nilai yang diperoleh mahasiswa menjadi lebih berbobot.
5. Dari pengalaman mengajar yang dialami peneliti, jika dosen memberikan tugas terstruktur atau mandiri berupa soal pemecahan masalah atau penemuan yang agak kompleks atau sulit, maka sebagian mahasiswa yang tidak mampu menyelesaikan umumnya mereka tidak jujur atau terbuka menyelesaikan sejauh mana yang dia bisa kerjakan tetapi mereka tuntaskan tugasnya dengan mencontoh pekerjaan temannya dengan atau tanpa pemahaman, dan kebanyakan tanpa pemahaman. Penelitian mengupayakan pemecahan masalah tersebut dengan membelajarkan mahasiswa dalam kelompok kecil yang diatur sedemikian rupa sehingga ketuntasan belajar dapat dicapai.
6. Pengertian belajar tuntas (mastery learning) sebenarnya lebih menekankan pada kegiatan individual dalam belajar. (James H. Block, 1971: 53) . Mahasiswa betanggung jawab terhadap proses dan hasil belajarnya sendiri, penekanan ini terutama ditujukan pada usaha penguasaan bahan ajar. Meskipun dosen telah berusaha meminimalkan kendala-kendala mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar, namun tetap saja ada mahasiswa yang tidak dapat mencapai ketuntasan belajar seperti yang diharapkan dalam tujuan pengajaran. Hal ini antara lain karena keterbatasan penyediaan waktu dosen untuk memperhatikan dan membimbing mahasiswa tersebut, kurangnya usaha, semangat mahasiswa untuk menguasai bahan ajar atau kekurangmampuan mahasiswa memanfaatkan secara optimal potensi lingkungannya (misal : teman-teman, sarana prasarana, dll). Penelitian ini mengupayakan ketuntasan belajar semua mahasiwa peserta kuliah tanpa menurunkan tingkat kesulitan dan membatasi ruang lingkup bahan seperti yang telah ditetapkan pada tujuan pembelajaran , dengan menutup segala keterbatasan yang disebut di atas.
7. Mahasiswa UNNES (khususnya Pendidikan Matematika) adalah calon guru, disamping kemampuan akademik yang memadai mereka dituntut pula memiliki kepribadian dengan ciri-ciri tertentu : percaya diri, antusias, menyukai hubungan interpersonal, empati, kamunikator yang baik, pendengar yang baik, sabar, dedikasi dan sebagainya, yang barangkali tidak semuanya dapat ditimba dari kuliah yang hanya sekedar ceramah, menyelesaikan soal, tugas terstruktur, tugas mandiri saja. Dengan pembelajaran kooperatif ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan watak dan sikap tersebut diatas. Dari uraian diatas muncul permasalahan dalam proses belajar mengajar matematika di Universitas Negeri Semarang, antara lain tentang : realisasi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, strategi pemantauan proses, umpan balik dan teknik evaluasi proses belajar tersebut serta sejauh mana pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian diatas muncul permasalahan yaitu : Dalam proses perkuliahan di Prodi Pendidikan Matematika UNNES, dosen menemui kesulitan menyelenggarakan perkuliahan yang dapat mengoptimalkan kemampuan dan memaksimalkan perolehan materi secara individual bagi mahasiswa, kesulitan membelajarkan sekelompok mahasiswa dengan mempedulikan perbedaan karakteristik individual mahasiswa yang ada. Adapun identifikasi masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut :
1. Perlu dicoba merealisasikan pembelajaran “Kooperatif Semi Individual” untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa.
2. Perlu diteliti proses pembelajaran “Kooperatif Semi Individual” yang diterapkan pada mahasiswa pendidikan matematika.
3. Perlu diteliti umpan balik dan hasil evaluasi proses pembelajaran “Kooperatif Semi Individual” yang diterapkan ada mahasiswaa pendidikan matematika.
4. Sejauh mana pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa yaitu pada mata kuliah Statistika Matematika ?
Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari pendidikan mahasiswa sebagai orang dewasa adalah untuk membantu setiap mahasiswa sebagai orang dewasa, untuk mengembangkan diri melalui pendidikan. Tidak ada satu sistem pendidikan orang dewasa yang dapat memenuhi semua kebutuhan belajar dan keinginan mahasiswa. Sekalipun demikian tidak tertutup kemungkinan usaha-usaha untuk membantu setiap mahasiswa untuk mengembangkan potensi (kemampuan ) yang mereka miliki sebaik mungkin.
Melalui pendidikan orang dewasa, dosen diharapkan mampu mendorong perkembangan mahasiswa ke arah tiga hal, yaitu : membangkitkan semangat mahasiswa, memberikan kemampuan kepada mahasiswa agar dapat berbuat seperti diperbuat orang lain, memberi kemampuan kepada mahasiswa untuk dapat menolak atau menerima hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan mereka.(Paulina Pannen, 1997 : 4).
Pencapaian ketiga aspek ini mengacu pada pencapaian rasa percaya diri dan kemampuan hidup mandiri sesuai dengan status seseorang dalam masyarakat. Mahasiswa diharapkan menjadi manusia kreatif, sensitif, sadar, dapat menjadi anggota masyarakat yang berperan aktif dalam proses pembangunan. Ketiga aspek tersebut merupakan bekal pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang menjadi tujuan akhir pendidikan orang dewasa yang diselenggarakan oleh berbagai institusi. Ketiga aspek itu adalah tujuan akhir dari suatu pendidikan di lembaga pendidikan tinggi.
Memperhatikan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian tindakan ini adalah :
1. Meningkatkan kualitas hasil belajar mahasiswa, khususnya optimalisasi kemampuan individual mahasiswa, maksimalisasi perolehan materi perkuliahan.
2. Mengkonstruksi pembelajaran yang memperhatikan potensi dinamis para mahasiswanya tetapi juga mempertimbangkan sarana dan prasarana yang tersedia yang memungkinkan terselenggaranya pengajaran yang memperhatikan individu-individu mahasiswa tersebut.
3. Penelitian ini diterapkan pada Matakuliah Statistika Matematika, sehingga diharapkan setelah proyek ini terlaksana pengetahuan dan kemampuan mahasiswa dalam bidang statistika menjadi lebih mantap dan dapat mendukung perkuliahan Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan, Statistika Penelitian dan pembuatan Skripsi.
Manfaat Penelitian
Hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang merupakan “self reflective teaching” ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi perorangan / institusi, sebagai berikut :
a. Bagi dosen : dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini, dosen dapat lebih mengetahui, bertambah wawasan, lebih menghayati strategi pembelajaran matematika yang lebih memperhatikan keragaman potensi-potensi dinamis mahasiswa, memperoleh kepuasan sebab dosen dapat mengoptimalkan kemampuan mahasiswa dan memaksimumkan perolehan materi proporsional terhadap kemampuan mahasiswa.
b. Bagi mahasiswa : hasil penelitian tindakan kelas ini sangat menguntungkan mahasiswa karena mahasiswa dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kemampuannya.
c. Bagi UNNES : hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada universitas dalam rangka perbaikan pelaksanaan perkuliahan, khususnya di Jurusan Matematika. Hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian ini juga dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan pendidikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Teori Mengajar
Mengajar dilukiskan sebagai proses interaksi antara dosen dan mahasiswa dimana dosen mengharapkan mahasiswanya dapat menguasai pengetahuan, ketrampilan ,sikap yang benar-benar diharapkan dosen berdasarkan SAP. Pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang diharapkan itu hendaknya relevan dengan tujuan dari perkuliahan yang diberikan dan disesuaikan dengan struktur kognitif mahasiswa. (Herman Hudoyo, 1980 : 18).
Dengan demikian mengajar adalah untuk melihat bagaimana proses belajar berjalan. Tidak hanya sekedar mengatakan dan memberi instruksi atau tidak hanya membiarkan siswa belajar sendiri tanpa dibimbing. Mengajar sebenarnya memberi kesempatan yang diajar untuk mencari, bertanya, bernalar, menemukan dan bahkan menebak dan mendebat.
Suatu kondisi yang perlu untuk pengembangan teori mengajar matematika adalah bahwa teori mengajar tersebut haruslah didasarkan kepada bagaimana mahasiswa dapat belajar secara efektif tanpa mencoba memaksa mahasiswa diluar tahap kesiapan intelegensinya.
Teori Belajar
Menurut Dienes, belajar matematika melibatkan suatu struktur hirarki dari yang telah terbentuk sebelumnya. Asumsi ini berarti adalah belajar konsep-konsep matematika yang lebih tinggi tidak mungkin bila prasyarat yang mendahului konsep-konsep itu belum dipelajari. Gagne dan Ausubel pun menggunakan konsep tersebut. Bagi Gagne, tingkatan urutan itu adalah dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip menuju ke pemecahan masalah. Pemecahan masalah ini oleh Gagne dipandang sebagai tahap belajar tingkat tertinggi. Tetapi Ausubel mulai dengan konsep-konsep yang paling inklusif dan kemudian memecah proses belajar kedalam konsep-konsep belajar yang kurang inklusif. Konsekuensinya, hirarkinya Gagne mulai dengan prasyarat sederhana dan bejalan menuju ke tahap yang lebih kompleks sebagaimana yang dikehendaki. Ausubel berpendapat sama, tetapi arah hirarkinya berbeda yaitu dari kerangka global ke suatu studi konsep-konsep bagian khusus.
Atas dasar struktur kognitif, bahan ajar harus disusun menurut urut-urutan kognitif, bahan ajar harus disusun menurut urut-urutan tingkat kesukaran yang logis dan didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu. Jadi bahan yang dipelajari haruslah bermakna, artinya bahan pelajaran itu cocok dengan kemampuan mahasiswa dan harus relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki mahasiswa. Dengan kata lain bahan ajar baru haruslah dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah ada sedemikian hingga konsep-konsep baru itu benar-benar terserap. Belajar yang “bermakna” bertentangan dengan belajar dengan menghafal. Belajar dengan menghafal berarti belajar dikerjakan dengan cara mekanik, sekedar mengingat tanpa suatu pengertian. Jika matematika dipelajari dengan hafalan maka siswa akan menjumpai kesulitan, sebab bahan pelajaran yang diperoleh dengan hafalan “belum siap pakai” untuk menyelesaikan masalah bahkan juga dalam situasi-situasi yang mirip dengan bahan yang dipelajari itu.
Pembelajaran “Semi Individual”
1. Bentuk dan Tujuan, mengenai bentuk pembelajaran individual, Sudjana dan Rivai dalam Hasibuan (1988 : 81), menyatakan bahwa pembelajaran individual ini memberikan kesempatan kepada setiap mahasiswa untuk belajar sesuai dengan tingkat kemampuan, kecepatan , kebutuhan dan tehnik atau caranya masing-masing. Tujuan utama yang ingin diperoleh adalah agar mahasiswa dapat belajar secara optimal serta mendapatkan perolehan belajar secara maksimal sesuai dengan tingkat kemampuan atau potensi dinamis yang dimilikinya. Bentuk dan tujuan pembelajaran ‘Semi Individual” sama dengan pembelajaran Individual.
2. Pengaturan Waktu, dalam pembelajaran individual, pengaturan waktu belajar secara fleksibel, tetapi dalam pembelajaran ”Semi Individual” waktu tetap sesuai dengan yang ditentukan dalam SAP.
3. Diagnosis, pembelajaran individual memerlukan identifikasi kemampuan awal (entry behavior) untuk bahan pertimbangan dilakukannya suatu pembelajaran. Identifikasi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan tes, dalam pembelajaran “Semi Individual” ini dilakukan pre-tes untuk menempatkan mahasiswa dalam kelompok-kelompok kemampuan tinggi, sedang, atau kurang.
4. Materi dan Pesan Informatif, dalam pembelajaran individual materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mahasiswa secara individual, dengan maksud untuk menghubungkan materi dasar dengan bidang ilmu tertentu (jurusan tertentu) dari mahasiswa. Materi dapat berbentuk berbagai ragam topik (tematik) yang dibahas oleh peserta belajar secara luas dengan menggunakan multi media dan multi metode untuk masalah yang sama. Karena berbagai kendala seperti sarana dan prasarana, tenaga dosen, ruang laborat, media, dan lain-lain maka dalam pembelajaran “Semi Individual” tidak dapat se-ideal pembelajaran individual diatas, sehingga dalam pembelajaran “Semi Individual” diterapkan materi sesuai dengan SAP, tetapi untuk kelompok mahasiswa berkemampuan tinggi diberi pengayaan (enrichment) dan kenaikan tingkat kesukaran lebih cepat, Kelompok sedang perlakuannya standar dan kelompok berkemampuan kurang lebih lambat serta metode dipilih pengajaran modul yang dibedakan menurut kelompok kemampuan bukan secara individual.
5. Evaluasi , dalam pembelajaran individual evaluasi dilaksanakan secara fleksibel, disesuaikan dengan kecepatan setiap peserta didik dalam penguasaan materi, sehingga pelaksanaannya dapat dilakukan sewaktu-waktu. Oleh sebab itu perlu disediakan lebih dari satu set tes. Bentuk evaluasi dapat dipilih sendiri oleh peserta didik sesuai dengan kemauan dan kemampuannya, misalnya dalam bentuk tugas presentasi kelas, penyusunan makalah, penulisan laporan, pengerjaan soal-soal, dan sebagainya. Dalam pembelajaran “Semi Individual” evaluasi (pos-tes) dilaksanakan bersama, waktu sesuai dengan yang telah diatur dalam satuan perkuliahan, dengan satu macam set soal. Jadi perbedaan mendasar pembelajaran “Semi Individual” dengan pembelajaran klasikal adalah pada penyampaian materi yang dibedakan menurut kelompok kemampuan intelektualnya, sehingga untuk mahasiswa berkemampuan rendah masih dimungkinkan menyerap materi sesuai dengan kemampuaannya daripada dalam pembelajaran klasikal, mahasiswa ini bisa sama sekali tidak menyerap materi, atau menyerap sepotong-sepotong, yang menyebabkan pelajaran kurang “bermakna”.
6. Pengajaran Remedial dan Bimbingan Pribadi, bagi mahasiswa-mahasiswa dengan hasil evaluasi dibawah batas minimal diberikan pengajaran remedial dan bimbingan-bimbingan pribadi diluar jam kuliah, misalnya dengan mempelajari kembali buku-buku tertentu atau dipresentasikan kembali deskripsi secara umum berkenaan dengan bahan yang diteskan, kemudian diadakan pos-tes ulang (re-post-test) untuk mengukur kembali sejauh mana penguasaan materi matematika mereka, bagi mereka yang tidak lulus re-post-test diberi perlakuan khusus yaitu bimbingan secara pribadi (konseling) sebelum mengikuti kegiatan atau Pokok Bahasan selanjutnya.
7. Penataan Tempat Duduk Mahasiswa, formasi tempat duduk yang dipergunakan oleh mahasiswa dapat mempengaruhi proses belajar. Dalam pembelajaran “Semi Individual” ini, apabila pengajaran akan ditempuh secara berdiskusi maka digunakan formasi tempat duduk melingkar untuk masing-masing kelompok, bila mahasiswa sedang mengerjakan atau memperlajari modul maka formasi dibuat berderet memanjang ke belakang dengan setiap anggota kelompok tertentu berdekatan sehingga memudahkan dosen melakukan pembimbingan atau inspeksi keliling.
Pengajaran Dalam Bentuk Modul
Secara umum modul dapat diartikan sebagai unit-unit yang memiliki keseluruhan yang lebih besar, sehingga istilah modul digunakan juga untuk bidang lain sebagai komponen. Sehingga modul merupakan unit-unit mata pelajaran dan yang terpenting adalah isi pelajarannya, sedangkan media-media lain sifatnya hanya membantu pembelajaran dengan modul.
Demikian juga dalam klasifikasinya, modul dibagi dalam dua kepentingan, seperti yang dipikirkan oleh Gibbsons, yaitu modul yang digunakan untuk keperluan pembelajaran individu, mandiri, sehingga peranan guru hanya jika diperlukan dan yang kedua modul digunakan dalam pengajaran di kelas. Dalam penelitian ini, modul diartikan untuk keperluan pembelajaran kelompok. Secara bersama-sama guru memberikan petunjuk tentang cara pembelajaran dengan modul dan setelah paham baru siswa mengerjakan.
Modul direncanakan dan disusun untuk keperluan peserta didik. Bahkan hampir dapat dipastikan bahwa 90% modul ditulis untuk memberikan cara belajar lebih mudah. (Hartono Kasmadi, 1995. Dalam LIP , h : 37). Akan tetapi tidak menutup kemungkinan modul juga digunakan oleh dosen untuk mengajar lebih lancar. Beberapa ciri fungsi modul adalah :
1. Dapat digunakan sebagai pengajaran biasa.
2. Memperkaya bahan pengajaran dan pembelajaran.
3. Pengajaran remedial.
4. Menyamakan persepsi diantara peserta didik, sehingga dapat mempelajari bahan yang baru.
5. Memberikan kesempatan peserta didik yang berhalangan mengikuti pelajaran kelas.
6. Keperluan pengajaran jarak jauh, atau kursus melalui pos.
Ciri-Ciri Modul
Melihat kegunaannya, terdapat ciri-ciri khusus modul pengajaran dan pembelajaran, antara lain seperti disebutkan dibawah ini :
1. Modul disusun hanya untuk satu kebutuhan belajar peserta didik pada tingkat tertentu. Artinya satu modul tidak boleh diperuntukkan bagi semua jenjang pendidikan.
2. Modul merupakan unit terkecil dari suatu bahan pelajaran. Sehingga sedapat mungkin dalam satu modul hanya termuat satu konsep dengan kelengkapannya yang tuntas.
3. Modul selalu merumuskan tujuan khusus perubahan tingkah laku sebagai hasil pembelajaran peserta didik. Sehingga mereka akan memahami secara tepat hasil yang akan dicapai.
4. Materi yang terkandung dalam isi modul, akan memberikan arahan untuk mencapai tujuan (TIK) yang dimuat pada awal modul.
5. Modul dapat memanfaatkan media lain, dengan memilih media yang tepat sesuai dengan TIK serta strategi pembelajarannya. Pemilihan media lain yang ditetapkan harus sudah dijelaskan sejak awal modul ditulis. Dan menetapkan media lain bukan sekedar pelengkap saja akan tetapi merupakan bagian dari modul yang harus dipelajari oleh peserta didik.
6. Modul juga dapat dijadikan bahan pengajaran remidi, dalam keadaan tertentu juga dapat dijadikan bahan kursus jarak jauh.
7. Terdapat juga modul khusus yang berisi bahan pengayaan bagi peserta didik yang telah dengan cepat menyelesaikan modul tertentu dan akan mampu belajar sendiri.
8. Strategi pembelajaran dalam modul dapat bervariasi, tergantung pendalaman bahan dan pilihan strategi yang tepat. Misalnya dengan aktivitas belajar modul dengan berdiskusi, perintah membaca buku teks atau referensi, melakukan percobaan atau sebagainya.
9. Modul merupakan bahan pembelajaran dimana peserta didik menyelesaikan pembelajarannya sesuai dengan kecepatannya sendiri.
10. Tugas serta hasil pembelajaran dalam modul bersifat tuntas.
11. Modul harus mengandung semua unsur konsep pembelajaran.
12. Evaluasi yang diterapkan pada modul harus sesuai dengan TIK yang telah dirumuskan pada awal modul.
13. Sebelum modul digunakan secara nyata harus mengalami uji-coba. Uji coba dikenakan pada peserta didik yang sesuai dengan tingkat pengalaman belajar serta tngkat kegunaan modul. Hasil uji-coba dapat digunakan sebagai perbaikan dan revisi seperlunya sehingga modul menjadi lebih sempurna.
Batang Tubuh Modul
Modul dapat ditulis dalam berbagai bentuk dan dapat juga dalam berbagai media. Didalamnya terdapat semua unsur proses pembelajaran. Yang harus diperhatikan adalah bahwa sebuah modul hanya akan berisi satu topik bahasan, bahkan kalau topik bahasan terlampau besar maka modul akan dibagi dalam sub topik bahasan. Ini tergantung juga pada kedalaman dan keluasan isi modul, serta ketuntasannya sesuai dengan hasil pembelajaran yang telah dirumuskan dalam tujuan khusus maupun tujuan umum.
Dalam penyelesaian setiap topik bahasan (sub topik bahasan) mungkinpeserta didik diharapkan juga melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu dengan menggunakan media-media atau alat peraga-alat peraga yang telah ditetapkan, misalnya :
1. Membaca artikel dalam jurnal, majalah, surat kabar.
2. Membaca buku teks atau buku rujukan lainnya.
3. Menganalisis gambar, foto, tabel, chart.
4. Menyaksikan dan menganalisis tayangan film, video atau slide.
5. Mengamati benda-benda atau peraga lainnya.
6. Mendengar dan menganalisis rekaman audio.
7. Melaksanakan uji coba dalam laboratorium atau bengkel kerja.
8. Berdiskusi berbagai topik dengan teman atau tutor.
9. Menganalisis hasil suatu percobaan atau demonstrasi.
Kegiatan - kegiatan tersebut harus dengan tepat dan pasti telah termuat dalam petunjuk dan atau instruksi modul. Semua perangkat lunak serta perangkat keraspun harus sudah tersedia, baik termuat dalam modul (chart, tabel, gambar), atau tersedia pada perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, yang ada di sekolah, pusat sumber belajar, atau dikemas dalam unit-unit lain, dan sebagainya.
Lazim suatu modul mempunyai batang tubuh sebagai berikut :
1. Topik : topik sesuai dengan kurikulum serta SAP yang telah tersedia.
2. Sinopsis/ Intisari : untuk memberikan gambaran yang jelas kepada peserta didik, maka disediakan ringkasan yang berkenaan dengan seluruh isi modul tersebut. Tujuannya agar peserta didik tidak mengira-ngira apa yang akan termuat serta dapat menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
3. Tujuan Khusus : tujuan khusus hendaknya dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan banyak, serta tujuan khusus ini harus mudah diukur dan dipahami oleh peserta didik. Tujuan khusus hendaknya dibatasi tidak lebih dari 4 rumusan tujuan.
4. Prasyarat Peserta Didik : jika diperlukan maka modul dapat menghendaki suatu prasyarat tertentu dari peserta didik. Prasyarat ini merupakan suatu kajian tentang pengalaman belajar sebelumnya, sehingga modul yang bersangkutan dapat dengan mudah diikuti.
5. Pre-tes : tes awal ini dimaksud untuk mengukur sejauh mana peserta didik mengetahui isi modul. Jika sekiranya peserta didik mampu memahami diatas 75 % maka diharapkan akanmudah menyelesaikan modul dengan tuntas.
6. Isi Pembelajaran : sesuai dengan topiknya maka isi pembelajaran modul memuat selengkapnya bahan yang harus dikaji oleh peserta didik. Isi bahan pelajaran biasa dibagi dalam bagian-bagian yang dilengkapi dengan acuan-acuan atau arahan-arahan apa yang dikerjakan mulai awal sampai akhir runtut sesuai dengan kriteria yang telah dirumuskan sesuai SAP, pedoman modul dan sebagainya. Kelengkapan lain yang termuat misalnya segala contoh yang diperlukan, bahan media yang harus dikerjakan, latihan-latihan, petunjuk perangkat keras media yang dapat digunakan, buku teks atau buku rujukan yang harus dibaca, diskusi yang harus dilaksanakan, bagian isi mana yang harus dikonsultasikan dan seterusnya. Pada setiap bagian dari isi modul, sebaiknya disajikan serangkaian alat evaluasi untuk mengukur keberhasilannya, apakah bagian tersebut sudah dipahami dengan baik atau belum.
7. Pos-tes : tes ini merupakan tes akhir yakni tes atau evaluasi hasil pembelajaran yang harus dilaksanakan oleh peserta didik. Tujuannya adalah untuk mengukur sejauh mana peserta didik telah mampu memahami seluruh isi modul. Tes akhir ini seyogyanya selaras dengan tes awal. Kriteria hasil telah ditetapkan dalam modul sehingga peserta didik akan tahu dengan pasti pada tingkatan berapa hasil yang telah dicapai. Lembar jawab sedapat mungkin dicantumkan juga pada modul, misalnya pada akhir buku modul. Jawaban harus sedemikian lengkap sehingga peserta didik dapat dengan jujur menilai sendiri.
G. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong mahasiswa aktif menemukan sendiri pengetahuaanya melalui ketampilan proses. Mahasiswa belajar dalam kelompok kecil yang kemampuannya heterogen. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota aling bekerja sama dan membantu dalam memahami suatu bahan ajar. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan saling membantu teman sekelompok mencapai ketuntasan. (Slavin, 1995 : 73). Agar mahasiswa dapat bekerjasama dengan baik didalam kelompoknya maka mereka perlu diajar ketrampilan-ketrampilan kooperatif sebagai berikut :
Berada dalam Tugas
Yang dimaksud adalah tetap berada dalam kerja kelompok, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya sampai selesai dan bekerja sama dalam kelompok sesuai dengan kesepakatan kelompok, ada kedisiplinan individu dalam kelompok. Dengan melatih kedisiplinan tersebut, mahasiswa akan menyelesaikan tugasnya dlam waktu yang tepat dengan ketelitian yang baik.
Mengambil Giliran dan Berbagi Tugas
Yaitu bersedia menerima tugas dan membantu menyelesaikan tugas. Ketrampilan ini penting karena kegiatan akan selesai pada waktunya dan kelompk akan lebih bangga terhadap peningkatan efektivitas dalam mempersiapkan tugas-tugas yang diemban.
Mendorong Partisipasi
Yaitu memotivasi teman sekelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok. Hal ini penting karena anggota kelompok akan merasa bahwa kontribusi mereka amat dibutuhkan, dan mereka merasa dihargai yang selanjutnya akan menumbuhkan rasa percaya diri.
Mendengarkan dengan Aktif
Yang dimaksud adalah mendengarkan dan menyerap informasi yang disampaikan teman dan menghargai pendapat teman. Ketrampilan ini penting sebab mendengarkan dengan aktif berarti memberi perhatian pada yang sedang berbicara sehingga anggota kelompok yang jadi pembicara akan merasa senang dan akan menambah motivasi belajar bagi dirinya sendiri dan yang lain.
Bertanya
Ketrampilan bertanya yang dimaksud adalah menanyakan informasi atau penjelasan lebih lanjut dari teman sekelompok, kalau perlu didiskusikan, apabila tetap tidak ada pemecahan, tiap anggota kelompok wajib mencari pustaka yang mendukung, jika tetap tidak terselesaikan baru bertanya kepada dosen.
Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan efektif, unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang perlu ditanamkan pada mahasiswa adalah sebagai berikut :
1. Para mahasiwa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam dan berenang bersama “.
2. Para mahasiswa memiliki tanggungjawab terhadap mahasiswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggungjawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
3. Para mahasiswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.
4. Para mahasiswa harus membagi tugas dan berbagi tanggungjawab sama besar diantara para anggota kelompok.
5. Para mahasiswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yangakan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6. Para mahasiswa berbagi kepemimpinan, sementara mereka memperoleh ketrampilan bekerjasama selam belajar.
7. Para mahasiswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Landasan Pembelajaran Kooperatif
Teori motivasi adalah teori yang mendasari pembelajaran kooperatif, mahasiswa yang bekerja dalam kelompok kooperatif belajar lebih banyak daripada kelas yang diorganisasikan secara tradisional (Slavin, 1995 : 16). Menurut teori motivasi, motivasi mahasiswa pada pembelajaran kooperatif terutama terletak pada bagaimana bentuk struktur pencapaian saat mahasiswa melaksanakan kegiatan. Terdapat tiga struktur pencapaian tujuan seperti berikut ini:
1. Kooperatif, setiap upaya berorientasi pada tujuan tiap individu menyumbang pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika mahasiswa lain mencapai tujuan tersebut.
2. Kompetitif, setiap upaya berorientasi pada tujuan tiap individu membuat frustasi pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika mahasiswa lain tidak mencapai tujuan tersebut.
3. Individualistik, tujuan tiap individu tidak memiliki konsekuensi terhadap pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa meyakini upaya mereka sendiri untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan teori motivasi tersebut, struktur pencapaian tujuan kooperatif menciptakan situasi dimana keberhasilan individu dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang dnginkan pada pembelajaran kooperatif anggota kelompok harus saling membantu satu sama lain untuk keberhasilan kelompoknya dan yang lebih penting adalah memberi dorongan pada anggota lain untuk berusaha mencapai tujuan yang maksimal.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritis diatas maka dapat dimunculkan untuk sementara hipotesis tindakan sebagai berikut :
“Dengan Model Pembelajaran “Kooperatif Semi Individual” ini, dosen dapat mengatasi kesulitan penyelenggaraan perkuliahan di Jurusan Mateamtika pada sekelompok mahasiswa yang beragam karakteristik individualnya dengan cara mengoptimalkan kemampuan individual bermodalkan sarana dan prasarana yang ada dan memaksimalkan perolehan materi sesuai kemampuan siswa masing-masing”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Untuk mengatasi permasalahan diatas dilakukan bentuk perkuliahan yang dapat mengoptimalkan kemampuan mahasiswa secara individual tetapi bukan dengan pengajaran individual yang membutuhkan banyak sarana/ prasarana, tenaga, waktu dan lain-lain. Alternatif yang akan dicoba diterapkan dalam penelitian tindakan ini adalah pengajaran “semi individual” yaitu pengajaran yang tetap dikelola secara klasikal, penyampaian perkuliahan yang bersifat informatif tetap disampaikan secara klasikal, selebihnya disampaikan secara kelompok yaitu untuk soal-soal atau pembuktian yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan analitis, dengan cara kelas dibagi dalam 3 kelompok : kemampuan tinggi (up-achiever), sedang (middle-achiever) dan kurang (under-achiever) dan tiap kelompok dibimbing oleh 1 orang ketua kelompok yang berkemampuan tinggi dan dianggap mampu mengelola kelompok belajar. Sebelum para ketua kelompok ini membimbing teman-temannya, mereka bertemu dahulu untuk membahas rencana soal yang akan dikerjakan, sehingga penguasaaan mereka sudah matang. Sehingga pembelajaran ini adalah pembelajaran kooperatif yang memperhatikan perbedaan kemampuan mahasiswa. Secara rinci penjelasannya adalah sebagai berikut :
A. Rencana Penelitian
1. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Matematika Prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang pada pada Mata Kuliah Statistika Matematika. Peneliti memilih matakuliah ini sebab pertama matakuliah ini menuntut banyak pemecahan masalah yang cocok untuk bahan diskusi dan mencakup berbagai jenjang ranah kognitif mulai dari pemahaman sampai evaluasi dan peneliti mengampu matakuliah tersebut.
2. Faktor Yang diselidiki
Untuk dapat menjawab permasalahan diatas, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah sebagi berikut :
a. Faktor Mahasiswa, akan diselidiki ada tidaknya kenaikan tingkat kemampuan mahasiswa dalam matakuliah Statistika Matematika , diuji dengan menggunakan alat ukur tes (yaitu pos-tes, tiap akhir Siklus ) sedangkan dinamikanya selama proses belajar mengajar diamati dengan menggunakan pedoman observasi terfokus.
b. Faktor Dosen : Melihat keterlibatan dosen dalam mempersiapkan pengajaran yang menerapkan model pembelajaran “Kooperatif Semi Individual” ini meliputi membuat satuan perkuliahan, merancang modul, media, alat bantu, dan lain-lain, dan mengamati dosen melaksanakan proses belajar mengajar apakah sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang dirancang atau belum, diamati dengan pedoman observasi sistematis.
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri atas 3 siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan terselesaikannya satu set modul yang memuat satu Pokok Bahasan sesuai dengan kurikulum dan SAP untuk kelas tersebut. Untuk dapat mengamati tingkat keterlibatan mahasiswa digunakan pedoman observasi terfokus, dan untuk menyelidiki seberapa banyak dan seberapa tinggi penguasaan mahasiswa terhadap Pokok Bahasan yang bersangkutan digunakan pos-tes.
Dari evaluasi hasil observasi dan tes diagnostik (pre-tes dan pos-tes) dilakukan diskusi untuk refleksi diri bagi dosen terhadap apa yang telah direncanakan dan ditindakkan. Secara lebih rinci rencana tindakan dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Persiapan
a. Menelaah karakteristik unit-unit materi dalam Pokok Bahasan yang akan diajarkan, yaitu materi-materi mana saja yang sulit untuk diajarkan secara klasikal, misalnya materi-materi yang membutuhkan sikap kritis, rangsangan berpikir, daya kreativitas belajar, dan materi-materi mana saja yang hanya membutuhkan penyampaian secara informatif.
b. Merumuskan tujuan perkuliahan , yaitu performansi yang akan dicapai melalui tindakan pembelajaran “kooperatif semi individual” ini.
c. Mengatur alokasi waktu yang dibutuhkan mahasiswa untuk menyelesaikan tugas dan kegiatan-kegiatan tindakan perkuliahan “kooperatif semi individual” ini.
d. Menyusun modul dan skenario perkuliahan “Semi Individual”, menyusun modul tiga macam untuk tiga karakteristik kelompok mahasiswa yang didesain sedemikian rupa sehingga memberikan fasilitas pengayaan (enrichment) bagi kelompok mahasiswa berkemampuan tinggi, membantu mahasiswa yang berkemampuan kurang secara lebih lambat dan bertahap disertai bimbingan pribadi. Untuk pengamatan terhadap dosen dan mahasiswa selama proses pembelajaran, dibuat pedoman observasi sistematis untuk dosen dan pedoman terfokus untuk mahasiswa.
e. Membuat Satuan Perkuliahan untuk siklus I, II dan III.
f. Menyiapkan media, alat bantu, dll, yang dibutuhkan.
g. Mendesain 3 instrumen penelitian, yaitu :
1). Pedoman Observasi terfokus untuk mengamati dinamika aktivitas dan keterlibatan mahasiswa selama proses perkuliahan.
2). Pedoman Observasi sistematis untuk mengamati dosen selama proses pengajaran berlangsung.
3). Tes, untuk mengungkap ada tidaknya peningkatan kemampuan dan penguasaaan materi perkuliahan pada mahasiswa.
2. Pelaksanaan Tindakan
a. Melaksanakan Perkuliahan Klasikal, yaitu menyampaikan unit-unit materi Pokok Bahasan yang hanya membutuhkan penyampaian secara informatif.
4. Melaksanakan Pre-tes, yaitu memberikan pretes untuk mengelompokkan mahasiswa kedalam 3 kelompok : kemampuan tinggi, sedang dan kurang. Untuk pengelompokan ini dapat diperkuat dengan IPK matakuliah-matakuliah matematika murni semester sebelumnya. Selanjutnya memberikan penjelasan-penjelasan dan instruksi-instruksi tentang Modul dan tugas-tugas yang harus dilakukan mahasiswa.
5. Dosen dan Ketua-ketua Kelompok mengadakan kesepakatan untuk pertemuan membahas permasalahan/ soal yang sulit. Hal ini tidak memakan waktu sebab para Ketua dipilih mahasiswa yang tergolong pandai.
6. Ketua-ketua Kelompok bersama anggotanya masing-masing membuat kesepakan untuk belajar bersama membahas hal-hal yang sulit.
7. Diadakan Pos-tes untuk mengetahui performansi para mahasiswa, sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran dicapai oleh mahasiswa dan skenario dijalankan dengan baik.
3. Observasi
Pada tahap ini dilakukan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan 2 macam pedoman observasi seperti yang disebutkan diatas. Sebelum tindakan, dilakukan pre-tes disamping untuk penempatan mahasiswa dalam kelompok I (“Tinggi”), II (“Sedang”) atau III (“Kurang”) (rata-rata pre-tes dan IPK sebelumnya) juga untuk mengukur kemampuan awal mahasiswa, dan setelah tindakan dilakukan pos-tes, kemudian rata-rata hasil pre-tes dan IPK semester sebelumnya dibandingkan dengan hasil pos-tes dengan menggunakan uji ketaksamaan 2 mean yaitu t-test.
4. Refleksi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh peneliti, kemudian melakukan refleksi diri tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal dosen dan mahasiswa. Kemudian untuk siklus berikutnya diadakan perbaikan atau peningkatan pengajaran dan lain-lain secara kualitas dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi.
Data dan Cara Pengambilannya
1. Sumber Data : mahasiswa selama proses perkuliahan, dosen yang sedang mengajar.
2. Jenis Data :
a. data hasil belajar mahasiswa,
b. data observasi proses mengajar,
c. data observasi proses belajar.
3. Cara Pengambilan Data
a. data hasil belajar mahasiswa diambil dengan menggunakan pre-tes dan pos-tes,
b. data observasi proses mengajar diambil dengan observasi sistematis,
c. data observasi proses belajar diambil dengan observasi terfokus.
Indikator Kinerja
Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan ini adalah apabila hasil uji-t menunjukkan bahwa nilai pos-tes (setelah akhir satu set modul atau satu Pokok Bahasan) lebih tinggi dari nilai pre-tes (sebelum dikenai tindakan) bersama-sama dengan IPK Semester sebelumnya, dinamika keterlibatan mahasiswa secara kognitif, afektif dan psiko motor menunjukkan kenaikan dilihat dari hasil observasi dan bila peran dosen selama proses pengajaran telah sesuai dengan skenario dan acuan-acuan pembelajaran “Semi Individual” diatas.
DAFTAR PUSTAKA
Adderly,K.W. & Ashwin, C. 1976. The Use of Project Methods in Higher Education. Society for Research in Higher Education. London.
Gibbons, M. 1971. Individualized Instructions. Teachers College Press. New York.
Hartono Kasmadi, 1995. Pemahaman Tentang Pengajaran Individu. Dalam Lembaran Pengetahuan IKIP Semarang Edisi Khusus 1995 Lustrum VI, hal : 32. IKIP Semarang Press. Semarang.
Hasibuan, JJ. 1988. Proses Belajar Mengajar. Remaja Karya. Bandung
Herman Hudoyo. 1980. Teori Dasar Belajar Mengajar Matematika. P3G Depdikbud. Jakarta.
Herman Hudoyo. 1984. Metode Mengajar Matematika. Depdikbud. Dirjen. Dikti. P2LPTK. Jakarta.
Knowles, M. 1975. Self Directed Learning : A Guide for Learners and Teachers. Cambridge Adult Education. New York.
Kozma, R.B.,Belle, L.W.,Williams, G.W. 1978. Instructional Techniques in Higher Education. Educational
Technology Publications. Englewood Cliffs. New Jersey.
Kustiono dan Achmad Munib. 1997. Pembelajaran Individualisasi : Desain dan Implementasinya Dalam Proses Pembelajaran. Dalam Lembaran Ilmu Pengetahuan IKIP Semarang No.2-Tahun XXVI-1997, hal : 74. IKIP Semarang Press. Semarang
Lily Budiardjo, Dra., M.Sc. 1997. Dosen dan Pemberian Tugas. (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Lundgren, Linda. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom. Glencoe Macmillan Mc Graw Hill. Nem York.
Maryanto. 1998. Pembelajaran Gotong Royong dalam Pengajaran Sains, Matematika dan Bahasa. (Makalah Seminar Nasional Kerja Sama RECSAM Penang Malaysia dan IKIP Semarang). Semarang.
Paulina Pannen, Dr., Mestika Sekarwinahyu, Dra. 1997. Belajar Aktif . (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning. Second Edition. Allyn and Bacon Publisher. Massachusetts.
Soedarno Wiryohandoyo. 1989. Learning Objectives. Makalah disampaikan dalam Latihan Pengembangan Sistem Instruksional III. IKIP Semarang. Semarang.
Suhito, Drs. 1987. Diagnosis Kesulitan Belajar. IKIP Semarang Press. Semarang
Sukewi Sugito. 1989. Pengelolaan Kelas. Dalam Lembaran Ilmu Pengetahuan IKIP Semarang No.4 - Tahun XVIII 1989, Hal : 1. IKIP Semarang Press. Semarang.
Veronika LD. 1 996. Pembelajaran Individual. PPS IKIP Malang. Malang.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang diterapkan di Jurusan Matematika Prodi Pendidikan Matematika UNNES. Beberapa hal yang melatar belakangi masalah penelitian ini antara lain sebagai berikut.
1. Keluhan para dosen tentang kesulitan pengajaran beberapa matakuliah terutama matakuliah matematika murni seperti : Analisis Riil, Statistika Matematika, Persamaan Deferensial, Struktur Aljabar, dll, yang disebabkan heterogenitas kemampuan mahasiswa. Dalam mengajar dosen telah memiliki acuan mengenai isi (materi) perkuliahan, kecepatan mengajar (alokasi waktu), metode yang tepat untuk diterapkan yaitu yang tercantum dalam SAP, tetapi dosen masih kesulitan jika dihadapkan pada keberagaman kemampuan mahasiswa, terutama mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kemampuan rendah, yang lambat menyerap bahan kuliah. Sebaliknya terhadap mahasiswa-mahasiswa pandai, cerdas atau bahkan yang jenius apabila dosen mengajar dengan mengacu SAP tidak bermasalah apalagi ditunjang dengan beberapa karakter positif seperti kepribadian dewasa, tenang, stabil, tetapi cukup bermasalah bila perbedaan kemampuan mahasiswa dalam satu kelas sangat tajam. Mereka yang tergolong pandai lebih mandiri dan cenderung individual, kurang merasa terbeban untuk menularkan kemampuannya bagi yang kurang pandai. Sementara mahasiswa yang kurang pandai cenderung merasa malu dan enggan untuk bertanya pada temannya yang pandai. Belajar kelompok dan tutor sebaya hanya dapat berlangsung jika ada intervensi dari dosen, seperti hasil pengalaman PTK pada tahun 2001 dalam penelitian yang berjudul “Pembelajaran “Kooperatif Jigsaw” : Suatu Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Mahasiswa Pendidikan Matematika UNNES”, dalam penelitian ini masih dirasakan keberagaman kemampuan mahasiswa masih menghambat tercapainya ketuntasan belajar.
2. Kesulitan para dosen mengkonstruksi perkuliahan yang memperhatikan potensi dinamis para mahasiswanya tetapi juga mempertimbangkan sarana dan prasarana yang tersedia yang memungkinkan terselenggaranya perkuliahan yang memperhatikan individu-individu tersebut. Perkuliahan di Perguruan Tinggi di Indonesia hingga dewasa ini umumnya masih dilakukan secara klasikal (umumnya satu kelas lebih dari 30 mahasiswa, kecuali matakuliah pilihan dan matakuliah yang dimunculkan karena kurikulumnya sudah tidak berlaku tapi masih ada mahasiswa yang belum lulus) , sebab pengajaran klasikal merupakan pengajaran yang paling efisien dari aspek tenaga, biaya maupun waktu pelaksanaannya. Bentuk pembelajaran ini mampu menghadapi sekelompok peserta didik dalam suatu kelas yang relatif besar jumlahnya dengan tindakan yang sama, baik dari cara penyajian, penyediaan bahan atau materi yang disajikan, waktu pelaksanaannya maupun setting penyelenggaraannya. Pembelajaran klasikal memiliki kelemahan yaitu kurangnya perhatian bagi individu-individu yang memiliki kemampuan beragam.
3. Permasalahan yang dihadapi dosen dalam meningkatkan kualitas hasil belajar mahasiswa, khususnya optimalisasi kemampuan individual mahasiswa, maksimalisasi perolehan materi pelajaran, artinya kelompok mahasiswa yang pandai atau kemampuannya diatas rata-rata yang jika diajar dengan lama waktu yang sama sebenarnya dapat menyerap lebih banyak materi dari pada mahasiswa dalam kelompok kemampuan yang sedang atau kurang. Umumnya dosen mengajarkan materi perkuliahan menyesuaikan dengan rata-rata kemampuan kelas atau semaunya dosen, hal ini kadang-kadang menyebabkan kelompok mahasiswa yang berkemampuan dibawah rata-rata mengalami kesulitan menerima bahan kuliah atau bahkan sama sekali tidak terserap, tetapi jika persediaan waktu lebih longgar atau mahasiswa kelompok ini diajar dengan lebih lambat barangkali persentase penyerapan dapat ditingkatkan sesuai dengan kemampuaanya. Sebenarnya dosen mengerti kelebihan pengajaran individual, mengenai strategi, pengelolaan, setting atau lokasi pembelajaran, bentuk pembelajaran dan sebagainya, sebagai cara pemecahan masalah diatas, tetapi bila diterapkan pengajaran individual murni, hal ini tidak dimungkinkan, dosen terbentur pada ketersediaan tenaga, ruang, alat bantu belajar, media, waktu pengajaran, fasilitas Perpustakaan dan lain-lain, yang secara umum negara kita belum mampu menerapkan perkuliahan yang ideal ini seperti yang dilakukan di negara-negara maju. Penelitian ini mengupayakan alternatif pemecahan masalah yaitu dengan sarana dan prasarana yang ada, atau yang mampu diadakan akan mendekatkan sistem perkuliahan ke bentuk pengajaran individual, yang dalam hal ini kami sebut sebagai pengajaran “semi individual”.
4. Apabila ada mahasiswa yang gagal mencapai target minimal penguasaan materi perkuliahan, maka dinyatakan tidak lulus mata kuliah tersebut dan harus mengulang, demikian sampai akhirnya dapat mencapai target minimal. Untuk mengatasi masalah tersebut, kadang-kadang dosen menggunakan PAN (Penilaian Acuan Normal), yaitu menilai kemampuan mahasiswa relatif terhadap teman-temannya, sehingga jika seorang mahasiswa tertentu dengan kemampuan tertentu akan memiliki nilai yang berbeda jika dia masuk di dua kelas dengan rata-rata kepandaian yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mencobakan strategi dan metode pembelajaran kooperatif yang memanfaatkan potensi dan eksistensi mahasiswa lain untuk membantu mahasiswa yang kurang dari segi akademis, kurang motivasi, minat, kurang aktif, kurang terarah dalam belajar dan sebagainya, sehingga dalam diri mahasiswa tertanam minat yang meningkat terhadap hal-hal yang dipelajari, sikap positif terhadap proses belajar mengajar, tumbuhnya sikap percaya diri dan terbinanya kesehatan mental yang penting bagi perkembangan mahasiswa. Dengan meningkatnya kemampuan individu maka akan meningkat pula rata-rata kelas akibatnya nilai yang diperoleh mahasiswa menjadi lebih berbobot.
5. Dari pengalaman mengajar yang dialami peneliti, jika dosen memberikan tugas terstruktur atau mandiri berupa soal pemecahan masalah atau penemuan yang agak kompleks atau sulit, maka sebagian mahasiswa yang tidak mampu menyelesaikan umumnya mereka tidak jujur atau terbuka menyelesaikan sejauh mana yang dia bisa kerjakan tetapi mereka tuntaskan tugasnya dengan mencontoh pekerjaan temannya dengan atau tanpa pemahaman, dan kebanyakan tanpa pemahaman. Penelitian mengupayakan pemecahan masalah tersebut dengan membelajarkan mahasiswa dalam kelompok kecil yang diatur sedemikian rupa sehingga ketuntasan belajar dapat dicapai.
6. Pengertian belajar tuntas (mastery learning) sebenarnya lebih menekankan pada kegiatan individual dalam belajar. (James H. Block, 1971: 53) . Mahasiswa betanggung jawab terhadap proses dan hasil belajarnya sendiri, penekanan ini terutama ditujukan pada usaha penguasaan bahan ajar. Meskipun dosen telah berusaha meminimalkan kendala-kendala mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar, namun tetap saja ada mahasiswa yang tidak dapat mencapai ketuntasan belajar seperti yang diharapkan dalam tujuan pengajaran. Hal ini antara lain karena keterbatasan penyediaan waktu dosen untuk memperhatikan dan membimbing mahasiswa tersebut, kurangnya usaha, semangat mahasiswa untuk menguasai bahan ajar atau kekurangmampuan mahasiswa memanfaatkan secara optimal potensi lingkungannya (misal : teman-teman, sarana prasarana, dll). Penelitian ini mengupayakan ketuntasan belajar semua mahasiwa peserta kuliah tanpa menurunkan tingkat kesulitan dan membatasi ruang lingkup bahan seperti yang telah ditetapkan pada tujuan pembelajaran , dengan menutup segala keterbatasan yang disebut di atas.
7. Mahasiswa UNNES (khususnya Pendidikan Matematika) adalah calon guru, disamping kemampuan akademik yang memadai mereka dituntut pula memiliki kepribadian dengan ciri-ciri tertentu : percaya diri, antusias, menyukai hubungan interpersonal, empati, kamunikator yang baik, pendengar yang baik, sabar, dedikasi dan sebagainya, yang barangkali tidak semuanya dapat ditimba dari kuliah yang hanya sekedar ceramah, menyelesaikan soal, tugas terstruktur, tugas mandiri saja. Dengan pembelajaran kooperatif ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan watak dan sikap tersebut diatas. Dari uraian diatas muncul permasalahan dalam proses belajar mengajar matematika di Universitas Negeri Semarang, antara lain tentang : realisasi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, strategi pemantauan proses, umpan balik dan teknik evaluasi proses belajar tersebut serta sejauh mana pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian diatas muncul permasalahan yaitu : Dalam proses perkuliahan di Prodi Pendidikan Matematika UNNES, dosen menemui kesulitan menyelenggarakan perkuliahan yang dapat mengoptimalkan kemampuan dan memaksimalkan perolehan materi secara individual bagi mahasiswa, kesulitan membelajarkan sekelompok mahasiswa dengan mempedulikan perbedaan karakteristik individual mahasiswa yang ada. Adapun identifikasi masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut :
1. Perlu dicoba merealisasikan pembelajaran “Kooperatif Semi Individual” untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa.
2. Perlu diteliti proses pembelajaran “Kooperatif Semi Individual” yang diterapkan pada mahasiswa pendidikan matematika.
3. Perlu diteliti umpan balik dan hasil evaluasi proses pembelajaran “Kooperatif Semi Individual” yang diterapkan ada mahasiswaa pendidikan matematika.
4. Sejauh mana pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa yaitu pada mata kuliah Statistika Matematika ?
Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari pendidikan mahasiswa sebagai orang dewasa adalah untuk membantu setiap mahasiswa sebagai orang dewasa, untuk mengembangkan diri melalui pendidikan. Tidak ada satu sistem pendidikan orang dewasa yang dapat memenuhi semua kebutuhan belajar dan keinginan mahasiswa. Sekalipun demikian tidak tertutup kemungkinan usaha-usaha untuk membantu setiap mahasiswa untuk mengembangkan potensi (kemampuan ) yang mereka miliki sebaik mungkin.
Melalui pendidikan orang dewasa, dosen diharapkan mampu mendorong perkembangan mahasiswa ke arah tiga hal, yaitu : membangkitkan semangat mahasiswa, memberikan kemampuan kepada mahasiswa agar dapat berbuat seperti diperbuat orang lain, memberi kemampuan kepada mahasiswa untuk dapat menolak atau menerima hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan mereka.(Paulina Pannen, 1997 : 4).
Pencapaian ketiga aspek ini mengacu pada pencapaian rasa percaya diri dan kemampuan hidup mandiri sesuai dengan status seseorang dalam masyarakat. Mahasiswa diharapkan menjadi manusia kreatif, sensitif, sadar, dapat menjadi anggota masyarakat yang berperan aktif dalam proses pembangunan. Ketiga aspek tersebut merupakan bekal pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang menjadi tujuan akhir pendidikan orang dewasa yang diselenggarakan oleh berbagai institusi. Ketiga aspek itu adalah tujuan akhir dari suatu pendidikan di lembaga pendidikan tinggi.
Memperhatikan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian tindakan ini adalah :
1. Meningkatkan kualitas hasil belajar mahasiswa, khususnya optimalisasi kemampuan individual mahasiswa, maksimalisasi perolehan materi perkuliahan.
2. Mengkonstruksi pembelajaran yang memperhatikan potensi dinamis para mahasiswanya tetapi juga mempertimbangkan sarana dan prasarana yang tersedia yang memungkinkan terselenggaranya pengajaran yang memperhatikan individu-individu mahasiswa tersebut.
3. Penelitian ini diterapkan pada Matakuliah Statistika Matematika, sehingga diharapkan setelah proyek ini terlaksana pengetahuan dan kemampuan mahasiswa dalam bidang statistika menjadi lebih mantap dan dapat mendukung perkuliahan Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan, Statistika Penelitian dan pembuatan Skripsi.
Manfaat Penelitian
Hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas yang merupakan “self reflective teaching” ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi perorangan / institusi, sebagai berikut :
a. Bagi dosen : dengan dilaksanakannya penelitian tindakan kelas ini, dosen dapat lebih mengetahui, bertambah wawasan, lebih menghayati strategi pembelajaran matematika yang lebih memperhatikan keragaman potensi-potensi dinamis mahasiswa, memperoleh kepuasan sebab dosen dapat mengoptimalkan kemampuan mahasiswa dan memaksimumkan perolehan materi proporsional terhadap kemampuan mahasiswa.
b. Bagi mahasiswa : hasil penelitian tindakan kelas ini sangat menguntungkan mahasiswa karena mahasiswa dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kemampuannya.
c. Bagi UNNES : hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada universitas dalam rangka perbaikan pelaksanaan perkuliahan, khususnya di Jurusan Matematika. Hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian ini juga dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan pendidikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Teori Mengajar
Mengajar dilukiskan sebagai proses interaksi antara dosen dan mahasiswa dimana dosen mengharapkan mahasiswanya dapat menguasai pengetahuan, ketrampilan ,sikap yang benar-benar diharapkan dosen berdasarkan SAP. Pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang diharapkan itu hendaknya relevan dengan tujuan dari perkuliahan yang diberikan dan disesuaikan dengan struktur kognitif mahasiswa. (Herman Hudoyo, 1980 : 18).
Dengan demikian mengajar adalah untuk melihat bagaimana proses belajar berjalan. Tidak hanya sekedar mengatakan dan memberi instruksi atau tidak hanya membiarkan siswa belajar sendiri tanpa dibimbing. Mengajar sebenarnya memberi kesempatan yang diajar untuk mencari, bertanya, bernalar, menemukan dan bahkan menebak dan mendebat.
Suatu kondisi yang perlu untuk pengembangan teori mengajar matematika adalah bahwa teori mengajar tersebut haruslah didasarkan kepada bagaimana mahasiswa dapat belajar secara efektif tanpa mencoba memaksa mahasiswa diluar tahap kesiapan intelegensinya.
Teori Belajar
Menurut Dienes, belajar matematika melibatkan suatu struktur hirarki dari yang telah terbentuk sebelumnya. Asumsi ini berarti adalah belajar konsep-konsep matematika yang lebih tinggi tidak mungkin bila prasyarat yang mendahului konsep-konsep itu belum dipelajari. Gagne dan Ausubel pun menggunakan konsep tersebut. Bagi Gagne, tingkatan urutan itu adalah dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip menuju ke pemecahan masalah. Pemecahan masalah ini oleh Gagne dipandang sebagai tahap belajar tingkat tertinggi. Tetapi Ausubel mulai dengan konsep-konsep yang paling inklusif dan kemudian memecah proses belajar kedalam konsep-konsep belajar yang kurang inklusif. Konsekuensinya, hirarkinya Gagne mulai dengan prasyarat sederhana dan bejalan menuju ke tahap yang lebih kompleks sebagaimana yang dikehendaki. Ausubel berpendapat sama, tetapi arah hirarkinya berbeda yaitu dari kerangka global ke suatu studi konsep-konsep bagian khusus.
Atas dasar struktur kognitif, bahan ajar harus disusun menurut urut-urutan kognitif, bahan ajar harus disusun menurut urut-urutan tingkat kesukaran yang logis dan didasarkan atas pengalaman-pengalaman terdahulu. Jadi bahan yang dipelajari haruslah bermakna, artinya bahan pelajaran itu cocok dengan kemampuan mahasiswa dan harus relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki mahasiswa. Dengan kata lain bahan ajar baru haruslah dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah ada sedemikian hingga konsep-konsep baru itu benar-benar terserap. Belajar yang “bermakna” bertentangan dengan belajar dengan menghafal. Belajar dengan menghafal berarti belajar dikerjakan dengan cara mekanik, sekedar mengingat tanpa suatu pengertian. Jika matematika dipelajari dengan hafalan maka siswa akan menjumpai kesulitan, sebab bahan pelajaran yang diperoleh dengan hafalan “belum siap pakai” untuk menyelesaikan masalah bahkan juga dalam situasi-situasi yang mirip dengan bahan yang dipelajari itu.
Pembelajaran “Semi Individual”
1. Bentuk dan Tujuan, mengenai bentuk pembelajaran individual, Sudjana dan Rivai dalam Hasibuan (1988 : 81), menyatakan bahwa pembelajaran individual ini memberikan kesempatan kepada setiap mahasiswa untuk belajar sesuai dengan tingkat kemampuan, kecepatan , kebutuhan dan tehnik atau caranya masing-masing. Tujuan utama yang ingin diperoleh adalah agar mahasiswa dapat belajar secara optimal serta mendapatkan perolehan belajar secara maksimal sesuai dengan tingkat kemampuan atau potensi dinamis yang dimilikinya. Bentuk dan tujuan pembelajaran ‘Semi Individual” sama dengan pembelajaran Individual.
2. Pengaturan Waktu, dalam pembelajaran individual, pengaturan waktu belajar secara fleksibel, tetapi dalam pembelajaran ”Semi Individual” waktu tetap sesuai dengan yang ditentukan dalam SAP.
3. Diagnosis, pembelajaran individual memerlukan identifikasi kemampuan awal (entry behavior) untuk bahan pertimbangan dilakukannya suatu pembelajaran. Identifikasi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan tes, dalam pembelajaran “Semi Individual” ini dilakukan pre-tes untuk menempatkan mahasiswa dalam kelompok-kelompok kemampuan tinggi, sedang, atau kurang.
4. Materi dan Pesan Informatif, dalam pembelajaran individual materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mahasiswa secara individual, dengan maksud untuk menghubungkan materi dasar dengan bidang ilmu tertentu (jurusan tertentu) dari mahasiswa. Materi dapat berbentuk berbagai ragam topik (tematik) yang dibahas oleh peserta belajar secara luas dengan menggunakan multi media dan multi metode untuk masalah yang sama. Karena berbagai kendala seperti sarana dan prasarana, tenaga dosen, ruang laborat, media, dan lain-lain maka dalam pembelajaran “Semi Individual” tidak dapat se-ideal pembelajaran individual diatas, sehingga dalam pembelajaran “Semi Individual” diterapkan materi sesuai dengan SAP, tetapi untuk kelompok mahasiswa berkemampuan tinggi diberi pengayaan (enrichment) dan kenaikan tingkat kesukaran lebih cepat, Kelompok sedang perlakuannya standar dan kelompok berkemampuan kurang lebih lambat serta metode dipilih pengajaran modul yang dibedakan menurut kelompok kemampuan bukan secara individual.
5. Evaluasi , dalam pembelajaran individual evaluasi dilaksanakan secara fleksibel, disesuaikan dengan kecepatan setiap peserta didik dalam penguasaan materi, sehingga pelaksanaannya dapat dilakukan sewaktu-waktu. Oleh sebab itu perlu disediakan lebih dari satu set tes. Bentuk evaluasi dapat dipilih sendiri oleh peserta didik sesuai dengan kemauan dan kemampuannya, misalnya dalam bentuk tugas presentasi kelas, penyusunan makalah, penulisan laporan, pengerjaan soal-soal, dan sebagainya. Dalam pembelajaran “Semi Individual” evaluasi (pos-tes) dilaksanakan bersama, waktu sesuai dengan yang telah diatur dalam satuan perkuliahan, dengan satu macam set soal. Jadi perbedaan mendasar pembelajaran “Semi Individual” dengan pembelajaran klasikal adalah pada penyampaian materi yang dibedakan menurut kelompok kemampuan intelektualnya, sehingga untuk mahasiswa berkemampuan rendah masih dimungkinkan menyerap materi sesuai dengan kemampuaannya daripada dalam pembelajaran klasikal, mahasiswa ini bisa sama sekali tidak menyerap materi, atau menyerap sepotong-sepotong, yang menyebabkan pelajaran kurang “bermakna”.
6. Pengajaran Remedial dan Bimbingan Pribadi, bagi mahasiswa-mahasiswa dengan hasil evaluasi dibawah batas minimal diberikan pengajaran remedial dan bimbingan-bimbingan pribadi diluar jam kuliah, misalnya dengan mempelajari kembali buku-buku tertentu atau dipresentasikan kembali deskripsi secara umum berkenaan dengan bahan yang diteskan, kemudian diadakan pos-tes ulang (re-post-test) untuk mengukur kembali sejauh mana penguasaan materi matematika mereka, bagi mereka yang tidak lulus re-post-test diberi perlakuan khusus yaitu bimbingan secara pribadi (konseling) sebelum mengikuti kegiatan atau Pokok Bahasan selanjutnya.
7. Penataan Tempat Duduk Mahasiswa, formasi tempat duduk yang dipergunakan oleh mahasiswa dapat mempengaruhi proses belajar. Dalam pembelajaran “Semi Individual” ini, apabila pengajaran akan ditempuh secara berdiskusi maka digunakan formasi tempat duduk melingkar untuk masing-masing kelompok, bila mahasiswa sedang mengerjakan atau memperlajari modul maka formasi dibuat berderet memanjang ke belakang dengan setiap anggota kelompok tertentu berdekatan sehingga memudahkan dosen melakukan pembimbingan atau inspeksi keliling.
Pengajaran Dalam Bentuk Modul
Secara umum modul dapat diartikan sebagai unit-unit yang memiliki keseluruhan yang lebih besar, sehingga istilah modul digunakan juga untuk bidang lain sebagai komponen. Sehingga modul merupakan unit-unit mata pelajaran dan yang terpenting adalah isi pelajarannya, sedangkan media-media lain sifatnya hanya membantu pembelajaran dengan modul.
Demikian juga dalam klasifikasinya, modul dibagi dalam dua kepentingan, seperti yang dipikirkan oleh Gibbsons, yaitu modul yang digunakan untuk keperluan pembelajaran individu, mandiri, sehingga peranan guru hanya jika diperlukan dan yang kedua modul digunakan dalam pengajaran di kelas. Dalam penelitian ini, modul diartikan untuk keperluan pembelajaran kelompok. Secara bersama-sama guru memberikan petunjuk tentang cara pembelajaran dengan modul dan setelah paham baru siswa mengerjakan.
Modul direncanakan dan disusun untuk keperluan peserta didik. Bahkan hampir dapat dipastikan bahwa 90% modul ditulis untuk memberikan cara belajar lebih mudah. (Hartono Kasmadi, 1995. Dalam LIP , h : 37). Akan tetapi tidak menutup kemungkinan modul juga digunakan oleh dosen untuk mengajar lebih lancar. Beberapa ciri fungsi modul adalah :
1. Dapat digunakan sebagai pengajaran biasa.
2. Memperkaya bahan pengajaran dan pembelajaran.
3. Pengajaran remedial.
4. Menyamakan persepsi diantara peserta didik, sehingga dapat mempelajari bahan yang baru.
5. Memberikan kesempatan peserta didik yang berhalangan mengikuti pelajaran kelas.
6. Keperluan pengajaran jarak jauh, atau kursus melalui pos.
Ciri-Ciri Modul
Melihat kegunaannya, terdapat ciri-ciri khusus modul pengajaran dan pembelajaran, antara lain seperti disebutkan dibawah ini :
1. Modul disusun hanya untuk satu kebutuhan belajar peserta didik pada tingkat tertentu. Artinya satu modul tidak boleh diperuntukkan bagi semua jenjang pendidikan.
2. Modul merupakan unit terkecil dari suatu bahan pelajaran. Sehingga sedapat mungkin dalam satu modul hanya termuat satu konsep dengan kelengkapannya yang tuntas.
3. Modul selalu merumuskan tujuan khusus perubahan tingkah laku sebagai hasil pembelajaran peserta didik. Sehingga mereka akan memahami secara tepat hasil yang akan dicapai.
4. Materi yang terkandung dalam isi modul, akan memberikan arahan untuk mencapai tujuan (TIK) yang dimuat pada awal modul.
5. Modul dapat memanfaatkan media lain, dengan memilih media yang tepat sesuai dengan TIK serta strategi pembelajarannya. Pemilihan media lain yang ditetapkan harus sudah dijelaskan sejak awal modul ditulis. Dan menetapkan media lain bukan sekedar pelengkap saja akan tetapi merupakan bagian dari modul yang harus dipelajari oleh peserta didik.
6. Modul juga dapat dijadikan bahan pengajaran remidi, dalam keadaan tertentu juga dapat dijadikan bahan kursus jarak jauh.
7. Terdapat juga modul khusus yang berisi bahan pengayaan bagi peserta didik yang telah dengan cepat menyelesaikan modul tertentu dan akan mampu belajar sendiri.
8. Strategi pembelajaran dalam modul dapat bervariasi, tergantung pendalaman bahan dan pilihan strategi yang tepat. Misalnya dengan aktivitas belajar modul dengan berdiskusi, perintah membaca buku teks atau referensi, melakukan percobaan atau sebagainya.
9. Modul merupakan bahan pembelajaran dimana peserta didik menyelesaikan pembelajarannya sesuai dengan kecepatannya sendiri.
10. Tugas serta hasil pembelajaran dalam modul bersifat tuntas.
11. Modul harus mengandung semua unsur konsep pembelajaran.
12. Evaluasi yang diterapkan pada modul harus sesuai dengan TIK yang telah dirumuskan pada awal modul.
13. Sebelum modul digunakan secara nyata harus mengalami uji-coba. Uji coba dikenakan pada peserta didik yang sesuai dengan tingkat pengalaman belajar serta tngkat kegunaan modul. Hasil uji-coba dapat digunakan sebagai perbaikan dan revisi seperlunya sehingga modul menjadi lebih sempurna.
Batang Tubuh Modul
Modul dapat ditulis dalam berbagai bentuk dan dapat juga dalam berbagai media. Didalamnya terdapat semua unsur proses pembelajaran. Yang harus diperhatikan adalah bahwa sebuah modul hanya akan berisi satu topik bahasan, bahkan kalau topik bahasan terlampau besar maka modul akan dibagi dalam sub topik bahasan. Ini tergantung juga pada kedalaman dan keluasan isi modul, serta ketuntasannya sesuai dengan hasil pembelajaran yang telah dirumuskan dalam tujuan khusus maupun tujuan umum.
Dalam penyelesaian setiap topik bahasan (sub topik bahasan) mungkinpeserta didik diharapkan juga melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu dengan menggunakan media-media atau alat peraga-alat peraga yang telah ditetapkan, misalnya :
1. Membaca artikel dalam jurnal, majalah, surat kabar.
2. Membaca buku teks atau buku rujukan lainnya.
3. Menganalisis gambar, foto, tabel, chart.
4. Menyaksikan dan menganalisis tayangan film, video atau slide.
5. Mengamati benda-benda atau peraga lainnya.
6. Mendengar dan menganalisis rekaman audio.
7. Melaksanakan uji coba dalam laboratorium atau bengkel kerja.
8. Berdiskusi berbagai topik dengan teman atau tutor.
9. Menganalisis hasil suatu percobaan atau demonstrasi.
Kegiatan - kegiatan tersebut harus dengan tepat dan pasti telah termuat dalam petunjuk dan atau instruksi modul. Semua perangkat lunak serta perangkat keraspun harus sudah tersedia, baik termuat dalam modul (chart, tabel, gambar), atau tersedia pada perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, yang ada di sekolah, pusat sumber belajar, atau dikemas dalam unit-unit lain, dan sebagainya.
Lazim suatu modul mempunyai batang tubuh sebagai berikut :
1. Topik : topik sesuai dengan kurikulum serta SAP yang telah tersedia.
2. Sinopsis/ Intisari : untuk memberikan gambaran yang jelas kepada peserta didik, maka disediakan ringkasan yang berkenaan dengan seluruh isi modul tersebut. Tujuannya agar peserta didik tidak mengira-ngira apa yang akan termuat serta dapat menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
3. Tujuan Khusus : tujuan khusus hendaknya dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan banyak, serta tujuan khusus ini harus mudah diukur dan dipahami oleh peserta didik. Tujuan khusus hendaknya dibatasi tidak lebih dari 4 rumusan tujuan.
4. Prasyarat Peserta Didik : jika diperlukan maka modul dapat menghendaki suatu prasyarat tertentu dari peserta didik. Prasyarat ini merupakan suatu kajian tentang pengalaman belajar sebelumnya, sehingga modul yang bersangkutan dapat dengan mudah diikuti.
5. Pre-tes : tes awal ini dimaksud untuk mengukur sejauh mana peserta didik mengetahui isi modul. Jika sekiranya peserta didik mampu memahami diatas 75 % maka diharapkan akanmudah menyelesaikan modul dengan tuntas.
6. Isi Pembelajaran : sesuai dengan topiknya maka isi pembelajaran modul memuat selengkapnya bahan yang harus dikaji oleh peserta didik. Isi bahan pelajaran biasa dibagi dalam bagian-bagian yang dilengkapi dengan acuan-acuan atau arahan-arahan apa yang dikerjakan mulai awal sampai akhir runtut sesuai dengan kriteria yang telah dirumuskan sesuai SAP, pedoman modul dan sebagainya. Kelengkapan lain yang termuat misalnya segala contoh yang diperlukan, bahan media yang harus dikerjakan, latihan-latihan, petunjuk perangkat keras media yang dapat digunakan, buku teks atau buku rujukan yang harus dibaca, diskusi yang harus dilaksanakan, bagian isi mana yang harus dikonsultasikan dan seterusnya. Pada setiap bagian dari isi modul, sebaiknya disajikan serangkaian alat evaluasi untuk mengukur keberhasilannya, apakah bagian tersebut sudah dipahami dengan baik atau belum.
7. Pos-tes : tes ini merupakan tes akhir yakni tes atau evaluasi hasil pembelajaran yang harus dilaksanakan oleh peserta didik. Tujuannya adalah untuk mengukur sejauh mana peserta didik telah mampu memahami seluruh isi modul. Tes akhir ini seyogyanya selaras dengan tes awal. Kriteria hasil telah ditetapkan dalam modul sehingga peserta didik akan tahu dengan pasti pada tingkatan berapa hasil yang telah dicapai. Lembar jawab sedapat mungkin dicantumkan juga pada modul, misalnya pada akhir buku modul. Jawaban harus sedemikian lengkap sehingga peserta didik dapat dengan jujur menilai sendiri.
G. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong mahasiswa aktif menemukan sendiri pengetahuaanya melalui ketampilan proses. Mahasiswa belajar dalam kelompok kecil yang kemampuannya heterogen. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota aling bekerja sama dan membantu dalam memahami suatu bahan ajar. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan saling membantu teman sekelompok mencapai ketuntasan. (Slavin, 1995 : 73). Agar mahasiswa dapat bekerjasama dengan baik didalam kelompoknya maka mereka perlu diajar ketrampilan-ketrampilan kooperatif sebagai berikut :
Berada dalam Tugas
Yang dimaksud adalah tetap berada dalam kerja kelompok, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya sampai selesai dan bekerja sama dalam kelompok sesuai dengan kesepakatan kelompok, ada kedisiplinan individu dalam kelompok. Dengan melatih kedisiplinan tersebut, mahasiswa akan menyelesaikan tugasnya dlam waktu yang tepat dengan ketelitian yang baik.
Mengambil Giliran dan Berbagi Tugas
Yaitu bersedia menerima tugas dan membantu menyelesaikan tugas. Ketrampilan ini penting karena kegiatan akan selesai pada waktunya dan kelompk akan lebih bangga terhadap peningkatan efektivitas dalam mempersiapkan tugas-tugas yang diemban.
Mendorong Partisipasi
Yaitu memotivasi teman sekelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok. Hal ini penting karena anggota kelompok akan merasa bahwa kontribusi mereka amat dibutuhkan, dan mereka merasa dihargai yang selanjutnya akan menumbuhkan rasa percaya diri.
Mendengarkan dengan Aktif
Yang dimaksud adalah mendengarkan dan menyerap informasi yang disampaikan teman dan menghargai pendapat teman. Ketrampilan ini penting sebab mendengarkan dengan aktif berarti memberi perhatian pada yang sedang berbicara sehingga anggota kelompok yang jadi pembicara akan merasa senang dan akan menambah motivasi belajar bagi dirinya sendiri dan yang lain.
Bertanya
Ketrampilan bertanya yang dimaksud adalah menanyakan informasi atau penjelasan lebih lanjut dari teman sekelompok, kalau perlu didiskusikan, apabila tetap tidak ada pemecahan, tiap anggota kelompok wajib mencari pustaka yang mendukung, jika tetap tidak terselesaikan baru bertanya kepada dosen.
Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan efektif, unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang perlu ditanamkan pada mahasiswa adalah sebagai berikut :
1. Para mahasiwa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam dan berenang bersama “.
2. Para mahasiswa memiliki tanggungjawab terhadap mahasiswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggungjawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
3. Para mahasiswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.
4. Para mahasiswa harus membagi tugas dan berbagi tanggungjawab sama besar diantara para anggota kelompok.
5. Para mahasiswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yangakan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6. Para mahasiswa berbagi kepemimpinan, sementara mereka memperoleh ketrampilan bekerjasama selam belajar.
7. Para mahasiswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Landasan Pembelajaran Kooperatif
Teori motivasi adalah teori yang mendasari pembelajaran kooperatif, mahasiswa yang bekerja dalam kelompok kooperatif belajar lebih banyak daripada kelas yang diorganisasikan secara tradisional (Slavin, 1995 : 16). Menurut teori motivasi, motivasi mahasiswa pada pembelajaran kooperatif terutama terletak pada bagaimana bentuk struktur pencapaian saat mahasiswa melaksanakan kegiatan. Terdapat tiga struktur pencapaian tujuan seperti berikut ini:
1. Kooperatif, setiap upaya berorientasi pada tujuan tiap individu menyumbang pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika mahasiswa lain mencapai tujuan tersebut.
2. Kompetitif, setiap upaya berorientasi pada tujuan tiap individu membuat frustasi pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika mahasiswa lain tidak mencapai tujuan tersebut.
3. Individualistik, tujuan tiap individu tidak memiliki konsekuensi terhadap pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa meyakini upaya mereka sendiri untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan teori motivasi tersebut, struktur pencapaian tujuan kooperatif menciptakan situasi dimana keberhasilan individu dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang dnginkan pada pembelajaran kooperatif anggota kelompok harus saling membantu satu sama lain untuk keberhasilan kelompoknya dan yang lebih penting adalah memberi dorongan pada anggota lain untuk berusaha mencapai tujuan yang maksimal.
Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritis diatas maka dapat dimunculkan untuk sementara hipotesis tindakan sebagai berikut :
“Dengan Model Pembelajaran “Kooperatif Semi Individual” ini, dosen dapat mengatasi kesulitan penyelenggaraan perkuliahan di Jurusan Mateamtika pada sekelompok mahasiswa yang beragam karakteristik individualnya dengan cara mengoptimalkan kemampuan individual bermodalkan sarana dan prasarana yang ada dan memaksimalkan perolehan materi sesuai kemampuan siswa masing-masing”
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Untuk mengatasi permasalahan diatas dilakukan bentuk perkuliahan yang dapat mengoptimalkan kemampuan mahasiswa secara individual tetapi bukan dengan pengajaran individual yang membutuhkan banyak sarana/ prasarana, tenaga, waktu dan lain-lain. Alternatif yang akan dicoba diterapkan dalam penelitian tindakan ini adalah pengajaran “semi individual” yaitu pengajaran yang tetap dikelola secara klasikal, penyampaian perkuliahan yang bersifat informatif tetap disampaikan secara klasikal, selebihnya disampaikan secara kelompok yaitu untuk soal-soal atau pembuktian yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan analitis, dengan cara kelas dibagi dalam 3 kelompok : kemampuan tinggi (up-achiever), sedang (middle-achiever) dan kurang (under-achiever) dan tiap kelompok dibimbing oleh 1 orang ketua kelompok yang berkemampuan tinggi dan dianggap mampu mengelola kelompok belajar. Sebelum para ketua kelompok ini membimbing teman-temannya, mereka bertemu dahulu untuk membahas rencana soal yang akan dikerjakan, sehingga penguasaaan mereka sudah matang. Sehingga pembelajaran ini adalah pembelajaran kooperatif yang memperhatikan perbedaan kemampuan mahasiswa. Secara rinci penjelasannya adalah sebagai berikut :
A. Rencana Penelitian
1. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Matematika Prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang pada pada Mata Kuliah Statistika Matematika. Peneliti memilih matakuliah ini sebab pertama matakuliah ini menuntut banyak pemecahan masalah yang cocok untuk bahan diskusi dan mencakup berbagai jenjang ranah kognitif mulai dari pemahaman sampai evaluasi dan peneliti mengampu matakuliah tersebut.
2. Faktor Yang diselidiki
Untuk dapat menjawab permasalahan diatas, ada beberapa faktor yang ingin diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah sebagi berikut :
a. Faktor Mahasiswa, akan diselidiki ada tidaknya kenaikan tingkat kemampuan mahasiswa dalam matakuliah Statistika Matematika , diuji dengan menggunakan alat ukur tes (yaitu pos-tes, tiap akhir Siklus ) sedangkan dinamikanya selama proses belajar mengajar diamati dengan menggunakan pedoman observasi terfokus.
b. Faktor Dosen : Melihat keterlibatan dosen dalam mempersiapkan pengajaran yang menerapkan model pembelajaran “Kooperatif Semi Individual” ini meliputi membuat satuan perkuliahan, merancang modul, media, alat bantu, dan lain-lain, dan mengamati dosen melaksanakan proses belajar mengajar apakah sudah sesuai dengan skenario pembelajaran yang dirancang atau belum, diamati dengan pedoman observasi sistematis.
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri atas 3 siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan terselesaikannya satu set modul yang memuat satu Pokok Bahasan sesuai dengan kurikulum dan SAP untuk kelas tersebut. Untuk dapat mengamati tingkat keterlibatan mahasiswa digunakan pedoman observasi terfokus, dan untuk menyelidiki seberapa banyak dan seberapa tinggi penguasaan mahasiswa terhadap Pokok Bahasan yang bersangkutan digunakan pos-tes.
Dari evaluasi hasil observasi dan tes diagnostik (pre-tes dan pos-tes) dilakukan diskusi untuk refleksi diri bagi dosen terhadap apa yang telah direncanakan dan ditindakkan. Secara lebih rinci rencana tindakan dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Persiapan
a. Menelaah karakteristik unit-unit materi dalam Pokok Bahasan yang akan diajarkan, yaitu materi-materi mana saja yang sulit untuk diajarkan secara klasikal, misalnya materi-materi yang membutuhkan sikap kritis, rangsangan berpikir, daya kreativitas belajar, dan materi-materi mana saja yang hanya membutuhkan penyampaian secara informatif.
b. Merumuskan tujuan perkuliahan , yaitu performansi yang akan dicapai melalui tindakan pembelajaran “kooperatif semi individual” ini.
c. Mengatur alokasi waktu yang dibutuhkan mahasiswa untuk menyelesaikan tugas dan kegiatan-kegiatan tindakan perkuliahan “kooperatif semi individual” ini.
d. Menyusun modul dan skenario perkuliahan “Semi Individual”, menyusun modul tiga macam untuk tiga karakteristik kelompok mahasiswa yang didesain sedemikian rupa sehingga memberikan fasilitas pengayaan (enrichment) bagi kelompok mahasiswa berkemampuan tinggi, membantu mahasiswa yang berkemampuan kurang secara lebih lambat dan bertahap disertai bimbingan pribadi. Untuk pengamatan terhadap dosen dan mahasiswa selama proses pembelajaran, dibuat pedoman observasi sistematis untuk dosen dan pedoman terfokus untuk mahasiswa.
e. Membuat Satuan Perkuliahan untuk siklus I, II dan III.
f. Menyiapkan media, alat bantu, dll, yang dibutuhkan.
g. Mendesain 3 instrumen penelitian, yaitu :
1). Pedoman Observasi terfokus untuk mengamati dinamika aktivitas dan keterlibatan mahasiswa selama proses perkuliahan.
2). Pedoman Observasi sistematis untuk mengamati dosen selama proses pengajaran berlangsung.
3). Tes, untuk mengungkap ada tidaknya peningkatan kemampuan dan penguasaaan materi perkuliahan pada mahasiswa.
2. Pelaksanaan Tindakan
a. Melaksanakan Perkuliahan Klasikal, yaitu menyampaikan unit-unit materi Pokok Bahasan yang hanya membutuhkan penyampaian secara informatif.
4. Melaksanakan Pre-tes, yaitu memberikan pretes untuk mengelompokkan mahasiswa kedalam 3 kelompok : kemampuan tinggi, sedang dan kurang. Untuk pengelompokan ini dapat diperkuat dengan IPK matakuliah-matakuliah matematika murni semester sebelumnya. Selanjutnya memberikan penjelasan-penjelasan dan instruksi-instruksi tentang Modul dan tugas-tugas yang harus dilakukan mahasiswa.
5. Dosen dan Ketua-ketua Kelompok mengadakan kesepakatan untuk pertemuan membahas permasalahan/ soal yang sulit. Hal ini tidak memakan waktu sebab para Ketua dipilih mahasiswa yang tergolong pandai.
6. Ketua-ketua Kelompok bersama anggotanya masing-masing membuat kesepakan untuk belajar bersama membahas hal-hal yang sulit.
7. Diadakan Pos-tes untuk mengetahui performansi para mahasiswa, sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran dicapai oleh mahasiswa dan skenario dijalankan dengan baik.
3. Observasi
Pada tahap ini dilakukan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan 2 macam pedoman observasi seperti yang disebutkan diatas. Sebelum tindakan, dilakukan pre-tes disamping untuk penempatan mahasiswa dalam kelompok I (“Tinggi”), II (“Sedang”) atau III (“Kurang”) (rata-rata pre-tes dan IPK sebelumnya) juga untuk mengukur kemampuan awal mahasiswa, dan setelah tindakan dilakukan pos-tes, kemudian rata-rata hasil pre-tes dan IPK semester sebelumnya dibandingkan dengan hasil pos-tes dengan menggunakan uji ketaksamaan 2 mean yaitu t-test.
4. Refleksi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh peneliti, kemudian melakukan refleksi diri tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal dosen dan mahasiswa. Kemudian untuk siklus berikutnya diadakan perbaikan atau peningkatan pengajaran dan lain-lain secara kualitas dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi.
Data dan Cara Pengambilannya
1. Sumber Data : mahasiswa selama proses perkuliahan, dosen yang sedang mengajar.
2. Jenis Data :
a. data hasil belajar mahasiswa,
b. data observasi proses mengajar,
c. data observasi proses belajar.
3. Cara Pengambilan Data
a. data hasil belajar mahasiswa diambil dengan menggunakan pre-tes dan pos-tes,
b. data observasi proses mengajar diambil dengan observasi sistematis,
c. data observasi proses belajar diambil dengan observasi terfokus.
Indikator Kinerja
Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan ini adalah apabila hasil uji-t menunjukkan bahwa nilai pos-tes (setelah akhir satu set modul atau satu Pokok Bahasan) lebih tinggi dari nilai pre-tes (sebelum dikenai tindakan) bersama-sama dengan IPK Semester sebelumnya, dinamika keterlibatan mahasiswa secara kognitif, afektif dan psiko motor menunjukkan kenaikan dilihat dari hasil observasi dan bila peran dosen selama proses pengajaran telah sesuai dengan skenario dan acuan-acuan pembelajaran “Semi Individual” diatas.
DAFTAR PUSTAKA
Adderly,K.W. & Ashwin, C. 1976. The Use of Project Methods in Higher Education. Society for Research in Higher Education. London.
Gibbons, M. 1971. Individualized Instructions. Teachers College Press. New York.
Hartono Kasmadi, 1995. Pemahaman Tentang Pengajaran Individu. Dalam Lembaran Pengetahuan IKIP Semarang Edisi Khusus 1995 Lustrum VI, hal : 32. IKIP Semarang Press. Semarang.
Hasibuan, JJ. 1988. Proses Belajar Mengajar. Remaja Karya. Bandung
Herman Hudoyo. 1980. Teori Dasar Belajar Mengajar Matematika. P3G Depdikbud. Jakarta.
Herman Hudoyo. 1984. Metode Mengajar Matematika. Depdikbud. Dirjen. Dikti. P2LPTK. Jakarta.
Knowles, M. 1975. Self Directed Learning : A Guide for Learners and Teachers. Cambridge Adult Education. New York.
Kozma, R.B.,Belle, L.W.,Williams, G.W. 1978. Instructional Techniques in Higher Education. Educational
Technology Publications. Englewood Cliffs. New Jersey.
Kustiono dan Achmad Munib. 1997. Pembelajaran Individualisasi : Desain dan Implementasinya Dalam Proses Pembelajaran. Dalam Lembaran Ilmu Pengetahuan IKIP Semarang No.2-Tahun XXVI-1997, hal : 74. IKIP Semarang Press. Semarang
Lily Budiardjo, Dra., M.Sc. 1997. Dosen dan Pemberian Tugas. (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Lundgren, Linda. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom. Glencoe Macmillan Mc Graw Hill. Nem York.
Maryanto. 1998. Pembelajaran Gotong Royong dalam Pengajaran Sains, Matematika dan Bahasa. (Makalah Seminar Nasional Kerja Sama RECSAM Penang Malaysia dan IKIP Semarang). Semarang.
Paulina Pannen, Dr., Mestika Sekarwinahyu, Dra. 1997. Belajar Aktif . (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning. Second Edition. Allyn and Bacon Publisher. Massachusetts.
Soedarno Wiryohandoyo. 1989. Learning Objectives. Makalah disampaikan dalam Latihan Pengembangan Sistem Instruksional III. IKIP Semarang. Semarang.
Suhito, Drs. 1987. Diagnosis Kesulitan Belajar. IKIP Semarang Press. Semarang
Sukewi Sugito. 1989. Pengelolaan Kelas. Dalam Lembaran Ilmu Pengetahuan IKIP Semarang No.4 - Tahun XVIII 1989, Hal : 1. IKIP Semarang Press. Semarang.
Veronika LD. 1 996. Pembelajaran Individual. PPS IKIP Malang. Malang.
PEMBELAJARAN “KOOPERATIF JIGSAW-II ”
PEMBELAJARAN “KOOPERATIF JIGSAW-II ” : METODE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MAHASISWA JURUSAN MATEMATIKA UNNES
A. JUDUL PENELITIAN : PEMBELAJARAN “KOOPERATIF JIGSAW-II ” : METODE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MAHASISWA JURUSAN MATEMATIKA UNNES
B. BIDANG ILMU : MIPA
C. PENDAHULUAN
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, hal-hal krusial yang terjadi di kelas saat proses belajar mengajar berlangsung adalah antara lain : (1). Apabila ada mahasiswa yang gagal mencapai target minimal penguasaan materi perkuliahan, maka dinyatakan tidak lulus mata kuliah tersebut dan harus mengulang, demikian sampai akhirnya dapat mencapai target minimal. Untuk mengatasi masalah tersebut, kadang-kadang dosen menggunakan PAN (Penilaian Acuan Normal), yaitu menilai kemampuan mahasiswa relatif terhasap teman-temannya, sehingga jika seorang mahasiswa tertentu dengan kemampuan tertentu akan memiliki nilai yang berbeda jika dia masuk di dua kelas dengan rata-rata kepandaian yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mencobakan strategi dan metode pembelajaran kooperatif yang memanfaatkan potensi dan eksistensi mahasiswa lain untuk membantu mahasiswa yang kurang dari segi akademis, kurang motivasi, minat, kurang aktif, kurang terarah dalam belajar dan sebagainya, sehingga dalam diri mahasiswa tertanam minat yang meningkat terhadap hal-hal yang dipelajari, sikap positif terhadap proses belajar mengajar, tumbuhnya sikap percaya diri dan terbinanya kesehatan mental yang penting bagi perkembangan mahasiswa. Dengan meningkatnya kemampuan individu maka akan meningkat pula rata-rata kelas akibatnya nilai yang diperoleh mahasiswa menjadi lebih berbobot. (2). Dari pengalaman mengajar yang dialami peneliti, jika dosen memberikan tugas terstruktur atau mandiri berupa soal pemecahan masalah atau penemuan yang agak kompleks atau sulit, maka sebagian mahasiswa yang tidak mampu menyelesaikan umumnya mereka tidak jujur atau terbuka menyelesaikan sejauh mana yang dia bisa kerjakan tetapi mereka tuntaskan tugasnya dengan mencontoh pekerjaan temannya dengan atau tanpa pemahaman, dan kebanyakan tanpa pemahaman. Penelitian mengupayakan pemecahan masalah tersebut dengan membelajarkan mahasiswa dalam kelompok kecil yang diatur sedemikian rupa sehingga ketuntasan belajar dapat dicapai. (3). Pengertian belajar tuntas (mastery learning) sebenarnya lebih menekankan pada kegiatan individual dalam belajar. (James H. Block, 1971: 53) . Mahasiswa betanggung jawab terhadap proses dan hasil belajarnya sendiri, penekanan ini terutama ditujukan pada usaha penguasaan bahan ajar. Meskipun dosen telah berusaha meminimalkan kendala-kendala mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar, namun tetap saja ada mahasiswa yang tidak dapat mencapai ketuntasan belajar seperti yang diharapkan dalam tujuan pengajaran. Hal ini antara lain karena keterbatasan penyediaan waktu dosen untuk memperhatikan dan membimbing mahasiswa tersebut, kurangnya usaha, semangat mahasiswa untuk menguasai bahan ajar atau kekurangmampuan mahasiswa memanfaatkan secara optimal potensi lingkungannya (misal : teman-teman, sarana prasarana, dll). Penelitian ini mengupayakan ketuntasan belajar semua mahasiwa peserta kuliah tanpa menurunkan tingkat kesulitan dan membatasi ruang lingkup bahan seperti yang telah ditetapkan pada tujuan pembelajaran , dengan menutup segala keterbatasan yang disebut di atas. (4). Mahasiswa UNNES (khususnya Pendidikan Matematika) adalah calon guru, disamping kemampuan akademik yang memadai mereka dituntut pula memiliki kepribadian dengan ciri-ciri tertentu : percaya diri, antusias, menyukai hubungan interpersonal, empati, kamunikator yang baik, pendengar yang baik, sabar, dedikasi dan sebagainya, yang barangkali tidak semuanya dapat ditimba dari kuliah yang hanya sekedar ceramah, menyelesaikan soal, tugas terstruktur, tugas mandiri saja. Dengan pembelajaran kooperatif ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan watak dan sikap tersebut diatas. Dari uraian diatas muncul permasalahan dalam proses belajar mengajar matematika di Universitas Negeri Semarang, antara lain tentang : realisasi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II , strategi pemantauan proses, umpan balik dan teknik evaluasi proses belajar tersebut serta sejauh mana pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa.
D. PERUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu :
1. Bagaimana realisasi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini dapat diterapkan ?
2. Bagaimana strategi pemantauan proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini ?
3. Bagaimana bentuk umpan balik dan teknik evaluasi proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini ?
4. Sejauh mana pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa yaitu pada mata kuliah Statistika Matematika ?
E. TINJAUAN PUSTAKA
1. Ketuntasan Belajar
Pengertian belajar tuntas ( mastery learning) dikemukakan oleh James H. Block, lebih menekankan pada kegiatan individual dalam belajar. Penekanan ini terutama ditujukan pada penguasaan bahan ajar, dengan cara :
a. membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar,
b. menyediakan waktu yang cukup kepada mahasiswa untuk belajar sesuai dengan kecepatan belajar yang dimilikinya secara individual,
c. membatasi ruang lingkup bahan yang harus dipelajari dengan tingkat kesukaran tertentu.
Carol dengan konsep belajar tuntasnya mengemukakan bahwa bilamana mahasiswa diberi kesempatan menggunakan waktu yang cukup, dan ia menggunakan waktu tersebut sebaik-baiknya, maka ia akan mencapai tingkatan hasil belajar seperti yang diharapkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketuntasan belajar antara lain :
a. waktu yang tersedia untuk menyelesaikan suatu bahan yang telah ditentukan, misal satu semester,
b. usaha yang dilakukan mahasiswa untuk menguasai bahan ajar,
c. bakat seseorang yang sifatnya individual,
d. kualitas pengajaran atau tingkat kejelasan pengajaran,
e. kemampuan mahasiswa untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari keseluruhan proses belajar mengajar yang dihadapinya.
Setiap individu berbeda satu dengan yang lainnya, kemampuan untuk menangkap bahan ajar juga berlainan, tingkat usahanya pun bervariasi, maka faktor waktu yang dibutuhkan oleh individu yang berbeda juga akan berbeda untuk menguasai bahan yang sama. Dapat kita rumuskan, tingkat penguasaan bahan sebagai berikut : Tingkat penguasaan bahan adalah fungsi dari perbandingan waktu yang tersedia dengan waktu yang dibutuhkan.
Maksud utama konsep belajar tuntas adalah usaha agar dikuasainya bahan secara tuntas oleh sekelompok mahasiswa yang sedang mempelajari bahan kuliah tertentu secara tuntas. Tingkat ketuntasan itu bermacam-macam dan merupakan persyaratan minimum yang harus dikuasai mahasiswa. Batas minimum penguasaan ini kadang-kadang dijadikan dasar kelulusan bagi mahasiswa yang menempuh matakuliah tertantu. Biasanya persentase penguasaan bahan bergerak antara 75% sampai 90% (Suhito, 1987 :8). Bila persentase ini belum dicapai , mahasiswa harus dibantu agar mencapai penguasaan pada taraf yang ditentukan.
Agar setiap mahasiswa dapat mencapai tingkat penguasaan bahan yang ditentukan maka :
Pengorganisasian pengajaran diatur menjadi satuan dasar sehingga logis dan sistematis.
Penguasaan satu unit tertentu dipersyaratkan sebelum mereka melanjutkan ke unit satuan bahan pengajaran berikutnya. Bahan inipun harus disusun dari tingkat yang sederhana menuju ke yang lebih kompleks dan dimulai dari yang mudah ke yang lebih sukar.
Setelah mahasiswa menyelesaikan kegiatan belajar untuk satuan matakuliah tertentu, perlu dilakukan tes diagnostik. Kegiatan ini berguna dalam rangka memperoleh balikan mengenai ketepatan cara belajar mahasiswa dan tingkat penguasaan bahan yang diperoleh.
Sesudah informasi ini diperoleh maka dilaksanakan kegiatan pengajaran perbaikan berupa bantuan khusus kepada para mahasiswa.
Prosedur operasional pengajaran perlu dikembangkan. Kualitas pengajaran hendaknya selalu ditingkatkan dengan berbagai cara antara lain : pemilihan strategi, metode yang tepat, melibatkan mahasiswa mental emosional dalam setiap kegiatan, mempergunakan multi media, melaksanakan evaluasi serta menggunakan hasilnya untuk perbaikan pengajaran.
Hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan konsep belajar tuntas hendaknya meliputi efek yang sifatnya instruksional. Jadi disamping tercapainya tujuan instruksional hendaknya dalam diri mahasiswa tertanam minat yang meningkat terhadap hal-hal yang dipelajari, sikap positif terhadap proses belajar mengajar, tumbuhnya sikap percaya diri dan terbinanya kesehatan mental yang penting bagi perkembangan mahasiswa.
2. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong mahasiswa aktif menemukan sendiri pengetahuaanya melalui ketampilan proses. Mahasiswa belajar dalam kelompok kecil yang kemampuannya heterogen. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota aling bekerja sama dan membantu dalam memahami suatu bahan ajar. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan saling membantu teman sekelompok mencapai ketuntasan. (Slavin, 1995 : 73). Agar mahasiswa dapat bekerjasama dengan baik didalam kelompoknya maka mereka perlu diajar ketrampilan-ketrampilan kooperatif sebagai berikut :
Berada dalam Tugas
Yang dimaksud adalah tetap berada dalam kerja kelompok, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya sampai selesai dan bekerja sama dalam kelompok sesuai dengan kesepakatan kelompok, ada kedisiplinan individu dalam kelompok. Dengan melatih kedisiplinan tersebut, mahasiswa akan menyelesaikan tugasnya dlam waktu yang tepat dengan ketelitian yang baik.
Mengambil Giliran dan Berbagi Tugas
Yaitu bersedia menerima tugas dan membantu menyelesaikan tugas. Ketrampilan ini penting karena kegiatan akan selesai pada waktunya dan kelompk akan lebih bangga terhadap peningkatan efektivitas dalam mempersiapkan tugas-tugas yang diemban.
Mendorong Partisipasi
Yaitu memotivasi teman sekelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok. Hal ini penting karena anggota kelompok akan merasa bahwa kontribusi mereka amat dibutuhkan, dan mereka merasa dihargai yang selanjutnya akan menumbuhkan rasa percaya diri.
Mendengarkan dengan Aktif
Yang dimaksud adalah mendengarkan dan menyerap informasi yang disampaikan teman dan menghargai pendapat teman. Ketrampilan ini penting sebab mendengarkan dengan aktif berarti memberi perhatian pada yang sedang berbicara sehingga anggota kelompok yang jadi pembicara akan merasa senang dan akan menambah motivasi belajar bagi dirinya sendiri dan yang lain.
Bertanya
Ketrampilan bertanya yang dimaksud adalah menanyakan informasi atau penjelasan lebih lanjut dari teman sekelompok, kalau perlu didiskusikan, apabila tetap tidak ada pemecahan, tiap anggota kelompok wajib mencari pustaka yang mendukung, jika tetap tidak terselesaikan baru bertanya kepada dosen.
3. Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan efektif, unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang perlu ditanamkan pada mahasiswa adalah sebagai berikut :
a. Para mahasiwa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam dan berenang bersama “.
b. Para mahasiswa memiliki tanggungjawab terhadap mahasiswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggungjawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c. Para mahasiswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.
d. Para mahasiswa harus membagi tugas dan berbagi tanggungjawab sama besar diantara para anggota kelompok.
e. Para mahasiswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yangakan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f. Para mahasiswa berbagi kepemimpinan, sementara mereka memperoleh ketrampilan bekerjasama selam belajar.
g. Para mahasiswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
4. Landasan Pembelajaran Kooperatif
Teori motivasi adalah teori yang mendasari pembelajaran kooperatif, mahasiswa yang bekerja dalam kelompok kooperatif belajar lebih banyak daripada kelas yang diorganisasikan secara tradisional (Slavin, 1995 : 16). Menurut teori motivasi, motivasi mahasiswa pada pembelajaran kooperatif terutama terletak pada bagaimana bentuk struktur pencapaian saat mahasiswa melaksanakan kegiatan. Terdapat tiga struktur pencapaian tujuan seperti berikut ini:
a. Kooperatif, setiap upaya berorientasi pada tujuan tiap individu menyumbang pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika mahasiswa lain mencapai tujuan tersebut.
b. Kompetitif, setiap upaya berorientasi pada tujuan tiap individu membuat frustasi pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika mahasiswa lain tidak mencapai tujuan tersebut.
c. Individualistik, tujuan tiap individu tidak memiliki konsekuensi terhadap pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa meyakini upaya mereka sendiri untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan teori motivasi tersebut, struktur pencapaian tujuan kooperatif menciptakan situasi dimana keberhasilan individu dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang dnginkan pada pembelajaran kooperatif anggota kelompok harus saling membantu satu sama lain untuk keberhasilan kelompoknya dan yang lebih penting adalah memberi dorongan pada anggota lain untuk berusaha mencapai tujuan yang maksimal.
5. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw-II
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II merupakan salah satu metode pembelajaran dimana dalam model ini suatu bidang ilmu “dipecah-pecah” menjadi beberapa bagian (section) dibahas lalu pecahan-pecahan itu “disatukan“ kembali dalam suatu diskusi pleno ( Prasetya Irawan, 1996 : 7 ). Dalam proses pembelajaran tipe Jigsaw-II ini dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu: parsiapan, presentasi bahan ajar, evaluasi, penghargaan kelompok, dan menghitung ulang skor awal.
Penjelasannya sebagi berikut:
a. Persiapan
1) Materi
Materi pembelajaran tipe Jigsaw-II dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran secara kelompok, sebelum menyajikan materi pembelajaran dibuat lembar kegiatan yang akan dipelajari siswa dalam kelompok.
2) Menetapkan Siswa dalam Kelompok
Kelompok-kelompok dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw-II terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal beranggotakan 4-6 orang, terdiri dari siswa yang pandai, sedang, dan kurang. Selain itu juga dipertimbangkan heterogenitas lainnya, misalnya jenis kelamin, latar belakang sosial, dan kesenangan. Ada beberapa petunjuk dalam menentukan kelompok asal:
Ø Meranking Siswa: berdasarkan prestasi siswa dalam kelas.
Ø Menentukan Jumlah kelompok: setiap kelompok beranggotakan 4-6 orang.
Ø Kelompok Ahli: dibentuk oleh kelompok atau guru berdasarkan keahliannya atau meteri yang disukai.
3) Menetukan Skor Awal
Skor awal merupakan rata-rata skor siswa secara individual pada kuis sebelumnya atau pre- test.
b. Tahap Pembelajaran
Pembelajaran kooperatif ini dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa dan memotivasi siswa untuk belajar. Langkah ini dkuti dengan penyajian informasi, selanjutnya siswa diorganisasi dalam kelompok- kelompok belajar.Setiap anggota kelompok mempunyai tugas untuk mempelajari satu topik tertentu, dalam hal ini belum ada diskusi dalam bentuk apapun dalam kelompok. Para anggota kelompok yang mempelajari topik yang sama dikumpulkan dalam satu kelompok. Jadi akan ada yang baru sejumlah topik yang dipelajari. Kelompok-kelompok yang baru bertemu untuk diskusi tentang topik yang sama (antar “ahli”) saling membantu satu ama lain tentang topik pembelajaran yang ditugaskan pada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali kepada kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan kepada anggota kelompoknya (kelompok asal) tentang apa yang telah mereka diskusikan dalam kelompok ahli. Jadi dalam hal ini setiap anggota kelompok berfungsi sebagai ahli menurut topik yang telah mereka pelajari.
Ilustrasi Kelompok Jigsaw-II :
(DICOPY DIAGRAMNYA JADI KACAU === PAYAH ====)
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä Ä
Ä Ä
¨ ¨
¨ ¨
Ñ Ñ
Ñ Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Keterangan : Baris I dan I : Kelompok Asal
Baris : Kelompok Ahli
f. Evaluasi Mandiri dan Penghargaan Kelompok
Setelah selesai menjelaskan kegiatan pembelajaran, siswa harus menunjukkan kemampuannya setelah bekerja dalam kelompok dengan mengerjakan tes hasil belajar (post-test) secara individual.Hasil post-test sebagai nilai perkembangan individu dan untuk menentukan skor kelompok. Nilai perkembangan individu dalam kelompok dapat dihitung dengan menggunakan tabel berikut:
SKOR POST-TEST
NILAI PERKEMBANGAN
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
5
1 s / d 10 poin di bawah skor awal
10
0 s / 10 di atas skor awal
20
10 atau lebih di atas skor awal
30
Nilai sempurna
30
g. Menghitung Ulang Skor
Setelah satu siklus penilaian dilakukan perhitungan ulang skor post-test sebagai skor awal baru.
6. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritis diatas maka dapat dimunculkan untuk sementara hipotesis tindakan sebagai berikut :
“Dengan Model Pembelajaran “Kooperatif Jigsaw-II” ini, dosen dapat mengatasi ketidaktuntasan belajar mahasiswa di Jurusan Matematika ”.
F. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
Tujuan Umum : menambah wawasan dosen tentang strategi pembelajaran matematika bagi mahasiswa, meningkatkan kreativitas dan aktivitas mahasiswa dalam belajar, melatih mahasiswa untuk bertanggung jawab terhadap proses belajar temannya dan mengembangkan kebiasaan dan budaya kerja sama dan belajar dalam kelompok.
Tujuan Khusus :
1. menerapkan dan merealisasikan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini pada mahasiswa pendidikan matematika IKIP Semarang,
2. mengetahui dan menerapkan strategi pemantauan proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini pada mahasiswa pendidikan matematika IKIP Semarang,
3. mengetahui bentuk umpan balik dan teknik evaluasi proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini,
4. mengetahui sejauh mana pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa pendidikan matematika IKIP Semarang.
G. MANFAAT PENELITIAN
Hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan yang merupakan “self reflective teaching” ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi perorangan / institusi, sebagai berikut :
1) Bagi dosen : dengan dilaksanakannya penelitian tindakan ini, dosen dapat lebih mengetahui secara tepat, bertambah wawasan, lebih menghayati strategi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini pada mahasiswa pendidikan matematika.
2) Bagi mahasiswa : hasil penelitian tindakan kelas ini sangat menguntungkan mahasiswa karena mahasiswa adalah obyek langsung dari penelitian ini, yang dikenai tindakan, semestinya ada perubahan-perubahan dalam diri mahasiswa dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang lebih positif.
3) Bagi UNNES : hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada LPTK, khususnya UNNES dalam rangka perbaikan sistem pembelajaran matematika.
4) Bagi khasanah pendidikan : memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif meningkatkan kualitas pendidikan di Perguruan Tinggi.
H. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif Jigsaw-II bagi mahasiswa Pendidikan Matematika UNNES.
1. Subyek Penelitian
Subyek Penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UNNES yang menempuh mata kuliah Statistika Matematika , peneliti memilih matakuliah ini sebab pertama matakuliah ini menuntut banyak pemecahan masalah yang cocok untuk bahan diskusi dan mencakup berbagai jenjang ranah kognitif mulai dari pemahaman sampai evaluasi dan peneliti mengampu matakuliah tersebut.
2. Pihak yang Terlibat
Pihak yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa peserta matakuliah tersebut diatas dan dosen pengampunya.
3. Rancangan Penelitian
a. Faktor Yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan diatas, ada beberapa faktor yang akan diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah :
· Faktor Mahasiswa : Akan diselidiki kondisi awal mahasiswa dengan menggunakan pre-tes atau kuis sebelumnya (kognitif dan psikomotor) dan pedoman wawancara (afektif, minat, materi yang disukai, dll)untuk penempatan mahsiswa dalam kelompok, sejauh mana keterlibatan dan partisipasi mahasiswa dalam proses belajar individual dan kelompok diamati dengan pedoman pemantauan tugas, dan diselidiki ada tidaknya kenaikan hasil belajar mahasiswa (membandingkan pre-tes dan pos-tes) setelah diterapkan strategi pembelajaran “Kooperatif Tipe Jigsaw-II ” secara individu maupun kelompok.
· Faktor Dosen : Mengamati kerja dosen (Peneliti) sebagai perencana, fasilitator, dan evaluator program pembelajaran “Kooperatif Tipe Jigsaw-II ” diamati dengan pedoman observasi sistematis.
b. Rencana Tindakan
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri 3 siklus . Tiap siklus dilaksanakan mulai perencanaan, persiapan tindakan , pelaksanaan tindakan , pemantauan, evaluasi individu dan kelompok serta refleksi tindakan, analisis dan dilakukan penyimpulan-penyimpulan.
1) Perencanaan
· Menyusun tujuan instruksional.
· Membuat skenario pembelajaran “Kooperatif Tipe Jigsaw-II ”.
· Menyusun pre-tes dan pos-tes
· Mendesain Pedoman Wawancara (afektif, minat, materi yang disukai dll).
· Mendesain Pedoman Pemantauan pembelajaran “Kooperatif Tipe Jigsaw-II ” untuk individu maupun kelompok.
· Mendesain Pedoman Observasi Sistematis bagi kerja dosen selama Pelaksanaan Tindakan.
2) Persiapan Tindakan
· Melaksanakan pre-tes.
· Melaksanakan wawancara pada mahasiswa.
· Analisis pre-tes dan wawancara untuk menempatkan mahasiswa dalam kelompok kooperatif.
· Penyusunan Lembaran Kerja/ Tugas bagi mahasiswa.
· Mempersiapkan media dan alat bantu yang diperlukan.
· Memberikan pengarahan kepada mahasiswa tentang operasional pembelajaran “Kooperatif Tipe Jigsaw-II ” dan tentang tugas yang akan diberikan.
3) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini :
· Melaksanakan skenario yang direncanakan.
· Memberikan beberapa topik bahasan (sebanyak anggota kelompok awal) kepada kelompok untuk kemudian dibagikan sesuai dengan kemampuan, minat, dll.
· Presentasi dan diskusi kelompok ahli untuk mematangkan penguasaan materi.
· Presentasi dan diskusi kelompok asal.
· Pos-tes.
4) Observasi
Pada tahap ini, mahasiswa tindakan pada butir c). dan dosen melakukan pemantauan (dengan Pedoman Pemantauan) terhadap kerja mahasiswa, sementara dosen lain (peneliti) mengamati kerja dosen sebagai fasilitator yang memberi tugas atau memandu mahasiswa dalam kelompok (dengan Pedoman Observasi Sistematis). Selanjutnya menganalisis nilai pre-tes dan pos-tes serta memberikan penilaian kelompok.
5) Analisis, Refleksi dan Evaluasi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh tim peneliti, kemudian dosen dapat merefleksi diri tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal dosen dan mahasiswa. Kemudian untuk siklus berikutnya diadakan perbaikan-perbaikan bilaman perlu secara kualitas dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi.
I. DAFTAR PUSTAKA
Adderly,K.W. & Ashwin, C. 1976. The Use of Project Methods in Higher Education. Society for Research in Higher Education. London.
Brookfield, S. 1984. Adult Learners, Adult Education and the Community. Teacher College Press. New York.
Houle, C. 1961. The Inquiring Mind. University of Madison Press. Madison.
Irawan, Prasetya. 1996. Beberapa Mode Tutorial. Komunika Nomor 13. Hal. 6-7.
Knowles, M. 1975. Self Directed Learning : A Guide for Learners and Teachers. Cambridge Adult Education. New York.
Kozma, R.B.,Belle, L.W.,Williams, G.W. 1978. Instructional Techniques in Higher Education. Educational
Technology Publications. Englewood Cliffs. New Jersey.
Lily Budiardjo, Dra., M.Sc. 1997. Dosen dan Pemberian Tugas. (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Lundgren, Linda. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom. Glencoe Macmillan Mc Graw Hill. Nem York.
Maryanto. 1998. Pembelajaran Gotong Royong dalam Pengajaran Sains, Matematika dan Bahasa. (Makalah Seminar Nasional Kerja Sama RECSAM Penang Malaysia dan IKIP Semarang). Semarang.
Paulina Pannen, Dr., Ida Malati S.,M.Ed., Drh. 1997. Pendidikan Orang Dewasa (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Paulina Pannen, Dr., Mestika Sekarwinahyu, Dra. 1997. Belajar Aktif . (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning. Second Edition. Allyn and Bacon Publisher. Massachusetts.
Suhito, Drs. 1987. Diagnosis Kesulitan Belajar. IKIP Semarang Press. Semarang
Tamat, T. 1985. Dari Pedagogik ke Andragogik : Pedoman bagi Pengelola Pendidikan dan Latihan. Pustaka Dian. Jakarta.
A. JUDUL PENELITIAN : PEMBELAJARAN “KOOPERATIF JIGSAW-II ” : METODE UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA MAHASISWA JURUSAN MATEMATIKA UNNES
B. BIDANG ILMU : MIPA
C. PENDAHULUAN
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, hal-hal krusial yang terjadi di kelas saat proses belajar mengajar berlangsung adalah antara lain : (1). Apabila ada mahasiswa yang gagal mencapai target minimal penguasaan materi perkuliahan, maka dinyatakan tidak lulus mata kuliah tersebut dan harus mengulang, demikian sampai akhirnya dapat mencapai target minimal. Untuk mengatasi masalah tersebut, kadang-kadang dosen menggunakan PAN (Penilaian Acuan Normal), yaitu menilai kemampuan mahasiswa relatif terhasap teman-temannya, sehingga jika seorang mahasiswa tertentu dengan kemampuan tertentu akan memiliki nilai yang berbeda jika dia masuk di dua kelas dengan rata-rata kepandaian yang berbeda. Penelitian ini bertujuan mencobakan strategi dan metode pembelajaran kooperatif yang memanfaatkan potensi dan eksistensi mahasiswa lain untuk membantu mahasiswa yang kurang dari segi akademis, kurang motivasi, minat, kurang aktif, kurang terarah dalam belajar dan sebagainya, sehingga dalam diri mahasiswa tertanam minat yang meningkat terhadap hal-hal yang dipelajari, sikap positif terhadap proses belajar mengajar, tumbuhnya sikap percaya diri dan terbinanya kesehatan mental yang penting bagi perkembangan mahasiswa. Dengan meningkatnya kemampuan individu maka akan meningkat pula rata-rata kelas akibatnya nilai yang diperoleh mahasiswa menjadi lebih berbobot. (2). Dari pengalaman mengajar yang dialami peneliti, jika dosen memberikan tugas terstruktur atau mandiri berupa soal pemecahan masalah atau penemuan yang agak kompleks atau sulit, maka sebagian mahasiswa yang tidak mampu menyelesaikan umumnya mereka tidak jujur atau terbuka menyelesaikan sejauh mana yang dia bisa kerjakan tetapi mereka tuntaskan tugasnya dengan mencontoh pekerjaan temannya dengan atau tanpa pemahaman, dan kebanyakan tanpa pemahaman. Penelitian mengupayakan pemecahan masalah tersebut dengan membelajarkan mahasiswa dalam kelompok kecil yang diatur sedemikian rupa sehingga ketuntasan belajar dapat dicapai. (3). Pengertian belajar tuntas (mastery learning) sebenarnya lebih menekankan pada kegiatan individual dalam belajar. (James H. Block, 1971: 53) . Mahasiswa betanggung jawab terhadap proses dan hasil belajarnya sendiri, penekanan ini terutama ditujukan pada usaha penguasaan bahan ajar. Meskipun dosen telah berusaha meminimalkan kendala-kendala mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar, namun tetap saja ada mahasiswa yang tidak dapat mencapai ketuntasan belajar seperti yang diharapkan dalam tujuan pengajaran. Hal ini antara lain karena keterbatasan penyediaan waktu dosen untuk memperhatikan dan membimbing mahasiswa tersebut, kurangnya usaha, semangat mahasiswa untuk menguasai bahan ajar atau kekurangmampuan mahasiswa memanfaatkan secara optimal potensi lingkungannya (misal : teman-teman, sarana prasarana, dll). Penelitian ini mengupayakan ketuntasan belajar semua mahasiwa peserta kuliah tanpa menurunkan tingkat kesulitan dan membatasi ruang lingkup bahan seperti yang telah ditetapkan pada tujuan pembelajaran , dengan menutup segala keterbatasan yang disebut di atas. (4). Mahasiswa UNNES (khususnya Pendidikan Matematika) adalah calon guru, disamping kemampuan akademik yang memadai mereka dituntut pula memiliki kepribadian dengan ciri-ciri tertentu : percaya diri, antusias, menyukai hubungan interpersonal, empati, kamunikator yang baik, pendengar yang baik, sabar, dedikasi dan sebagainya, yang barangkali tidak semuanya dapat ditimba dari kuliah yang hanya sekedar ceramah, menyelesaikan soal, tugas terstruktur, tugas mandiri saja. Dengan pembelajaran kooperatif ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan watak dan sikap tersebut diatas. Dari uraian diatas muncul permasalahan dalam proses belajar mengajar matematika di Universitas Negeri Semarang, antara lain tentang : realisasi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II , strategi pemantauan proses, umpan balik dan teknik evaluasi proses belajar tersebut serta sejauh mana pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa.
D. PERUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu :
1. Bagaimana realisasi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini dapat diterapkan ?
2. Bagaimana strategi pemantauan proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini ?
3. Bagaimana bentuk umpan balik dan teknik evaluasi proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini ?
4. Sejauh mana pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa yaitu pada mata kuliah Statistika Matematika ?
E. TINJAUAN PUSTAKA
1. Ketuntasan Belajar
Pengertian belajar tuntas ( mastery learning) dikemukakan oleh James H. Block, lebih menekankan pada kegiatan individual dalam belajar. Penekanan ini terutama ditujukan pada penguasaan bahan ajar, dengan cara :
a. membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan belajar,
b. menyediakan waktu yang cukup kepada mahasiswa untuk belajar sesuai dengan kecepatan belajar yang dimilikinya secara individual,
c. membatasi ruang lingkup bahan yang harus dipelajari dengan tingkat kesukaran tertentu.
Carol dengan konsep belajar tuntasnya mengemukakan bahwa bilamana mahasiswa diberi kesempatan menggunakan waktu yang cukup, dan ia menggunakan waktu tersebut sebaik-baiknya, maka ia akan mencapai tingkatan hasil belajar seperti yang diharapkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketuntasan belajar antara lain :
a. waktu yang tersedia untuk menyelesaikan suatu bahan yang telah ditentukan, misal satu semester,
b. usaha yang dilakukan mahasiswa untuk menguasai bahan ajar,
c. bakat seseorang yang sifatnya individual,
d. kualitas pengajaran atau tingkat kejelasan pengajaran,
e. kemampuan mahasiswa untuk mendapatkan manfaat yang optimal dari keseluruhan proses belajar mengajar yang dihadapinya.
Setiap individu berbeda satu dengan yang lainnya, kemampuan untuk menangkap bahan ajar juga berlainan, tingkat usahanya pun bervariasi, maka faktor waktu yang dibutuhkan oleh individu yang berbeda juga akan berbeda untuk menguasai bahan yang sama. Dapat kita rumuskan, tingkat penguasaan bahan sebagai berikut : Tingkat penguasaan bahan adalah fungsi dari perbandingan waktu yang tersedia dengan waktu yang dibutuhkan.
Maksud utama konsep belajar tuntas adalah usaha agar dikuasainya bahan secara tuntas oleh sekelompok mahasiswa yang sedang mempelajari bahan kuliah tertentu secara tuntas. Tingkat ketuntasan itu bermacam-macam dan merupakan persyaratan minimum yang harus dikuasai mahasiswa. Batas minimum penguasaan ini kadang-kadang dijadikan dasar kelulusan bagi mahasiswa yang menempuh matakuliah tertantu. Biasanya persentase penguasaan bahan bergerak antara 75% sampai 90% (Suhito, 1987 :8). Bila persentase ini belum dicapai , mahasiswa harus dibantu agar mencapai penguasaan pada taraf yang ditentukan.
Agar setiap mahasiswa dapat mencapai tingkat penguasaan bahan yang ditentukan maka :
Pengorganisasian pengajaran diatur menjadi satuan dasar sehingga logis dan sistematis.
Penguasaan satu unit tertentu dipersyaratkan sebelum mereka melanjutkan ke unit satuan bahan pengajaran berikutnya. Bahan inipun harus disusun dari tingkat yang sederhana menuju ke yang lebih kompleks dan dimulai dari yang mudah ke yang lebih sukar.
Setelah mahasiswa menyelesaikan kegiatan belajar untuk satuan matakuliah tertentu, perlu dilakukan tes diagnostik. Kegiatan ini berguna dalam rangka memperoleh balikan mengenai ketepatan cara belajar mahasiswa dan tingkat penguasaan bahan yang diperoleh.
Sesudah informasi ini diperoleh maka dilaksanakan kegiatan pengajaran perbaikan berupa bantuan khusus kepada para mahasiswa.
Prosedur operasional pengajaran perlu dikembangkan. Kualitas pengajaran hendaknya selalu ditingkatkan dengan berbagai cara antara lain : pemilihan strategi, metode yang tepat, melibatkan mahasiswa mental emosional dalam setiap kegiatan, mempergunakan multi media, melaksanakan evaluasi serta menggunakan hasilnya untuk perbaikan pengajaran.
Hasil belajar yang dicapai dengan menggunakan konsep belajar tuntas hendaknya meliputi efek yang sifatnya instruksional. Jadi disamping tercapainya tujuan instruksional hendaknya dalam diri mahasiswa tertanam minat yang meningkat terhadap hal-hal yang dipelajari, sikap positif terhadap proses belajar mengajar, tumbuhnya sikap percaya diri dan terbinanya kesehatan mental yang penting bagi perkembangan mahasiswa.
2. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mendorong mahasiswa aktif menemukan sendiri pengetahuaanya melalui ketampilan proses. Mahasiswa belajar dalam kelompok kecil yang kemampuannya heterogen. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota aling bekerja sama dan membantu dalam memahami suatu bahan ajar. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi dan saling membantu teman sekelompok mencapai ketuntasan. (Slavin, 1995 : 73). Agar mahasiswa dapat bekerjasama dengan baik didalam kelompoknya maka mereka perlu diajar ketrampilan-ketrampilan kooperatif sebagai berikut :
Berada dalam Tugas
Yang dimaksud adalah tetap berada dalam kerja kelompok, menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya sampai selesai dan bekerja sama dalam kelompok sesuai dengan kesepakatan kelompok, ada kedisiplinan individu dalam kelompok. Dengan melatih kedisiplinan tersebut, mahasiswa akan menyelesaikan tugasnya dlam waktu yang tepat dengan ketelitian yang baik.
Mengambil Giliran dan Berbagi Tugas
Yaitu bersedia menerima tugas dan membantu menyelesaikan tugas. Ketrampilan ini penting karena kegiatan akan selesai pada waktunya dan kelompk akan lebih bangga terhadap peningkatan efektivitas dalam mempersiapkan tugas-tugas yang diemban.
Mendorong Partisipasi
Yaitu memotivasi teman sekelompok untuk memberikan kontribusi terhadap tugas kelompok. Hal ini penting karena anggota kelompok akan merasa bahwa kontribusi mereka amat dibutuhkan, dan mereka merasa dihargai yang selanjutnya akan menumbuhkan rasa percaya diri.
Mendengarkan dengan Aktif
Yang dimaksud adalah mendengarkan dan menyerap informasi yang disampaikan teman dan menghargai pendapat teman. Ketrampilan ini penting sebab mendengarkan dengan aktif berarti memberi perhatian pada yang sedang berbicara sehingga anggota kelompok yang jadi pembicara akan merasa senang dan akan menambah motivasi belajar bagi dirinya sendiri dan yang lain.
Bertanya
Ketrampilan bertanya yang dimaksud adalah menanyakan informasi atau penjelasan lebih lanjut dari teman sekelompok, kalau perlu didiskusikan, apabila tetap tidak ada pemecahan, tiap anggota kelompok wajib mencari pustaka yang mendukung, jika tetap tidak terselesaikan baru bertanya kepada dosen.
3. Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif
Agar pembelajaran kooperatif dapat berjalan efektif, unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif yang perlu ditanamkan pada mahasiswa adalah sebagai berikut :
a. Para mahasiwa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam dan berenang bersama “.
b. Para mahasiswa memiliki tanggungjawab terhadap mahasiswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggungjawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
c. Para mahasiswa harus berpandangan bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama.
d. Para mahasiswa harus membagi tugas dan berbagi tanggungjawab sama besar diantara para anggota kelompok.
e. Para mahasiswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yangakan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
f. Para mahasiswa berbagi kepemimpinan, sementara mereka memperoleh ketrampilan bekerjasama selam belajar.
g. Para mahasiswa diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
4. Landasan Pembelajaran Kooperatif
Teori motivasi adalah teori yang mendasari pembelajaran kooperatif, mahasiswa yang bekerja dalam kelompok kooperatif belajar lebih banyak daripada kelas yang diorganisasikan secara tradisional (Slavin, 1995 : 16). Menurut teori motivasi, motivasi mahasiswa pada pembelajaran kooperatif terutama terletak pada bagaimana bentuk struktur pencapaian saat mahasiswa melaksanakan kegiatan. Terdapat tiga struktur pencapaian tujuan seperti berikut ini:
a. Kooperatif, setiap upaya berorientasi pada tujuan tiap individu menyumbang pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika mahasiswa lain mencapai tujuan tersebut.
b. Kompetitif, setiap upaya berorientasi pada tujuan tiap individu membuat frustasi pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa yakin bahwa tujuan mereka akan tercapai jika dan hanya jika mahasiswa lain tidak mencapai tujuan tersebut.
c. Individualistik, tujuan tiap individu tidak memiliki konsekuensi terhadap pencapaian tujuan individu lain. Mahasiswa meyakini upaya mereka sendiri untuk mencapai tujuan.
Berdasarkan teori motivasi tersebut, struktur pencapaian tujuan kooperatif menciptakan situasi dimana keberhasilan individu dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang dnginkan pada pembelajaran kooperatif anggota kelompok harus saling membantu satu sama lain untuk keberhasilan kelompoknya dan yang lebih penting adalah memberi dorongan pada anggota lain untuk berusaha mencapai tujuan yang maksimal.
5. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw-II
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II merupakan salah satu metode pembelajaran dimana dalam model ini suatu bidang ilmu “dipecah-pecah” menjadi beberapa bagian (section) dibahas lalu pecahan-pecahan itu “disatukan“ kembali dalam suatu diskusi pleno ( Prasetya Irawan, 1996 : 7 ). Dalam proses pembelajaran tipe Jigsaw-II ini dilaksanakan dalam beberapa tahap yaitu: parsiapan, presentasi bahan ajar, evaluasi, penghargaan kelompok, dan menghitung ulang skor awal.
Penjelasannya sebagi berikut:
a. Persiapan
1) Materi
Materi pembelajaran tipe Jigsaw-II dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran secara kelompok, sebelum menyajikan materi pembelajaran dibuat lembar kegiatan yang akan dipelajari siswa dalam kelompok.
2) Menetapkan Siswa dalam Kelompok
Kelompok-kelompok dalam pembelajaran kooperatif Jigsaw-II terdiri atas dua kelompok yaitu kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal beranggotakan 4-6 orang, terdiri dari siswa yang pandai, sedang, dan kurang. Selain itu juga dipertimbangkan heterogenitas lainnya, misalnya jenis kelamin, latar belakang sosial, dan kesenangan. Ada beberapa petunjuk dalam menentukan kelompok asal:
Ø Meranking Siswa: berdasarkan prestasi siswa dalam kelas.
Ø Menentukan Jumlah kelompok: setiap kelompok beranggotakan 4-6 orang.
Ø Kelompok Ahli: dibentuk oleh kelompok atau guru berdasarkan keahliannya atau meteri yang disukai.
3) Menetukan Skor Awal
Skor awal merupakan rata-rata skor siswa secara individual pada kuis sebelumnya atau pre- test.
b. Tahap Pembelajaran
Pembelajaran kooperatif ini dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa dan memotivasi siswa untuk belajar. Langkah ini dkuti dengan penyajian informasi, selanjutnya siswa diorganisasi dalam kelompok- kelompok belajar.Setiap anggota kelompok mempunyai tugas untuk mempelajari satu topik tertentu, dalam hal ini belum ada diskusi dalam bentuk apapun dalam kelompok. Para anggota kelompok yang mempelajari topik yang sama dikumpulkan dalam satu kelompok. Jadi akan ada yang baru sejumlah topik yang dipelajari. Kelompok-kelompok yang baru bertemu untuk diskusi tentang topik yang sama (antar “ahli”) saling membantu satu ama lain tentang topik pembelajaran yang ditugaskan pada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali kepada kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan kepada anggota kelompoknya (kelompok asal) tentang apa yang telah mereka diskusikan dalam kelompok ahli. Jadi dalam hal ini setiap anggota kelompok berfungsi sebagai ahli menurut topik yang telah mereka pelajari.
Ilustrasi Kelompok Jigsaw-II :
(DICOPY DIAGRAMNYA JADI KACAU === PAYAH ====)
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä Ä
Ä Ä
¨ ¨
¨ ¨
Ñ Ñ
Ñ Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Ä ¨
Ñ
Keterangan : Baris I dan I : Kelompok Asal
Baris : Kelompok Ahli
f. Evaluasi Mandiri dan Penghargaan Kelompok
Setelah selesai menjelaskan kegiatan pembelajaran, siswa harus menunjukkan kemampuannya setelah bekerja dalam kelompok dengan mengerjakan tes hasil belajar (post-test) secara individual.Hasil post-test sebagai nilai perkembangan individu dan untuk menentukan skor kelompok. Nilai perkembangan individu dalam kelompok dapat dihitung dengan menggunakan tabel berikut:
SKOR POST-TEST
NILAI PERKEMBANGAN
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
5
1 s / d 10 poin di bawah skor awal
10
0 s / 10 di atas skor awal
20
10 atau lebih di atas skor awal
30
Nilai sempurna
30
g. Menghitung Ulang Skor
Setelah satu siklus penilaian dilakukan perhitungan ulang skor post-test sebagai skor awal baru.
6. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka teoritis diatas maka dapat dimunculkan untuk sementara hipotesis tindakan sebagai berikut :
“Dengan Model Pembelajaran “Kooperatif Jigsaw-II” ini, dosen dapat mengatasi ketidaktuntasan belajar mahasiswa di Jurusan Matematika ”.
F. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
Tujuan Umum : menambah wawasan dosen tentang strategi pembelajaran matematika bagi mahasiswa, meningkatkan kreativitas dan aktivitas mahasiswa dalam belajar, melatih mahasiswa untuk bertanggung jawab terhadap proses belajar temannya dan mengembangkan kebiasaan dan budaya kerja sama dan belajar dalam kelompok.
Tujuan Khusus :
1. menerapkan dan merealisasikan pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini pada mahasiswa pendidikan matematika IKIP Semarang,
2. mengetahui dan menerapkan strategi pemantauan proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini pada mahasiswa pendidikan matematika IKIP Semarang,
3. mengetahui bentuk umpan balik dan teknik evaluasi proses pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini,
4. mengetahui sejauh mana pembelajaran ini dapat meningkatkan hasil belajar matematika mahasiswa pendidikan matematika IKIP Semarang.
G. MANFAAT PENELITIAN
Hasil pelaksanaan Penelitian Tindakan yang merupakan “self reflective teaching” ini akan memberikan manfaat yang berarti bagi perorangan / institusi, sebagai berikut :
1) Bagi dosen : dengan dilaksanakannya penelitian tindakan ini, dosen dapat lebih mengetahui secara tepat, bertambah wawasan, lebih menghayati strategi pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw-II ini pada mahasiswa pendidikan matematika.
2) Bagi mahasiswa : hasil penelitian tindakan kelas ini sangat menguntungkan mahasiswa karena mahasiswa adalah obyek langsung dari penelitian ini, yang dikenai tindakan, semestinya ada perubahan-perubahan dalam diri mahasiswa dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor dan kebiasaan-kebiasaan belajar yang lebih positif.
3) Bagi UNNES : hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik pada LPTK, khususnya UNNES dalam rangka perbaikan sistem pembelajaran matematika.
4) Bagi khasanah pendidikan : memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif meningkatkan kualitas pendidikan di Perguruan Tinggi.
H. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang mencoba menerapkan pembelajaran kooperatif Jigsaw-II bagi mahasiswa Pendidikan Matematika UNNES.
1. Subyek Penelitian
Subyek Penelitian ini adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UNNES yang menempuh mata kuliah Statistika Matematika , peneliti memilih matakuliah ini sebab pertama matakuliah ini menuntut banyak pemecahan masalah yang cocok untuk bahan diskusi dan mencakup berbagai jenjang ranah kognitif mulai dari pemahaman sampai evaluasi dan peneliti mengampu matakuliah tersebut.
2. Pihak yang Terlibat
Pihak yang terlibat dalam penelitian ini adalah mahasiswa peserta matakuliah tersebut diatas dan dosen pengampunya.
3. Rancangan Penelitian
a. Faktor Yang Diselidiki
Untuk menjawab permasalahan diatas, ada beberapa faktor yang akan diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah :
· Faktor Mahasiswa : Akan diselidiki kondisi awal mahasiswa dengan menggunakan pre-tes atau kuis sebelumnya (kognitif dan psikomotor) dan pedoman wawancara (afektif, minat, materi yang disukai, dll)untuk penempatan mahsiswa dalam kelompok, sejauh mana keterlibatan dan partisipasi mahasiswa dalam proses belajar individual dan kelompok diamati dengan pedoman pemantauan tugas, dan diselidiki ada tidaknya kenaikan hasil belajar mahasiswa (membandingkan pre-tes dan pos-tes) setelah diterapkan strategi pembelajaran “Kooperatif Tipe Jigsaw-II ” secara individu maupun kelompok.
· Faktor Dosen : Mengamati kerja dosen (Peneliti) sebagai perencana, fasilitator, dan evaluator program pembelajaran “Kooperatif Tipe Jigsaw-II ” diamati dengan pedoman observasi sistematis.
b. Rencana Tindakan
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri 3 siklus . Tiap siklus dilaksanakan mulai perencanaan, persiapan tindakan , pelaksanaan tindakan , pemantauan, evaluasi individu dan kelompok serta refleksi tindakan, analisis dan dilakukan penyimpulan-penyimpulan.
1) Perencanaan
· Menyusun tujuan instruksional.
· Membuat skenario pembelajaran “Kooperatif Tipe Jigsaw-II ”.
· Menyusun pre-tes dan pos-tes
· Mendesain Pedoman Wawancara (afektif, minat, materi yang disukai dll).
· Mendesain Pedoman Pemantauan pembelajaran “Kooperatif Tipe Jigsaw-II ” untuk individu maupun kelompok.
· Mendesain Pedoman Observasi Sistematis bagi kerja dosen selama Pelaksanaan Tindakan.
2) Persiapan Tindakan
· Melaksanakan pre-tes.
· Melaksanakan wawancara pada mahasiswa.
· Analisis pre-tes dan wawancara untuk menempatkan mahasiswa dalam kelompok kooperatif.
· Penyusunan Lembaran Kerja/ Tugas bagi mahasiswa.
· Mempersiapkan media dan alat bantu yang diperlukan.
· Memberikan pengarahan kepada mahasiswa tentang operasional pembelajaran “Kooperatif Tipe Jigsaw-II ” dan tentang tugas yang akan diberikan.
3) Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini :
· Melaksanakan skenario yang direncanakan.
· Memberikan beberapa topik bahasan (sebanyak anggota kelompok awal) kepada kelompok untuk kemudian dibagikan sesuai dengan kemampuan, minat, dll.
· Presentasi dan diskusi kelompok ahli untuk mematangkan penguasaan materi.
· Presentasi dan diskusi kelompok asal.
· Pos-tes.
4) Observasi
Pada tahap ini, mahasiswa tindakan pada butir c). dan dosen melakukan pemantauan (dengan Pedoman Pemantauan) terhadap kerja mahasiswa, sementara dosen lain (peneliti) mengamati kerja dosen sebagai fasilitator yang memberi tugas atau memandu mahasiswa dalam kelompok (dengan Pedoman Observasi Sistematis). Selanjutnya menganalisis nilai pre-tes dan pos-tes serta memberikan penilaian kelompok.
5) Analisis, Refleksi dan Evaluasi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh tim peneliti, kemudian dosen dapat merefleksi diri tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal dosen dan mahasiswa. Kemudian untuk siklus berikutnya diadakan perbaikan-perbaikan bilaman perlu secara kualitas dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi.
I. DAFTAR PUSTAKA
Adderly,K.W. & Ashwin, C. 1976. The Use of Project Methods in Higher Education. Society for Research in Higher Education. London.
Brookfield, S. 1984. Adult Learners, Adult Education and the Community. Teacher College Press. New York.
Houle, C. 1961. The Inquiring Mind. University of Madison Press. Madison.
Irawan, Prasetya. 1996. Beberapa Mode Tutorial. Komunika Nomor 13. Hal. 6-7.
Knowles, M. 1975. Self Directed Learning : A Guide for Learners and Teachers. Cambridge Adult Education. New York.
Kozma, R.B.,Belle, L.W.,Williams, G.W. 1978. Instructional Techniques in Higher Education. Educational
Technology Publications. Englewood Cliffs. New Jersey.
Lily Budiardjo, Dra., M.Sc. 1997. Dosen dan Pemberian Tugas. (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Lundgren, Linda. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom. Glencoe Macmillan Mc Graw Hill. Nem York.
Maryanto. 1998. Pembelajaran Gotong Royong dalam Pengajaran Sains, Matematika dan Bahasa. (Makalah Seminar Nasional Kerja Sama RECSAM Penang Malaysia dan IKIP Semarang). Semarang.
Paulina Pannen, Dr., Ida Malati S.,M.Ed., Drh. 1997. Pendidikan Orang Dewasa (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Paulina Pannen, Dr., Mestika Sekarwinahyu, Dra. 1997. Belajar Aktif . (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.
Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning. Second Edition. Allyn and Bacon Publisher. Massachusetts.
Suhito, Drs. 1987. Diagnosis Kesulitan Belajar. IKIP Semarang Press. Semarang
Tamat, T. 1985. Dari Pedagogik ke Andragogik : Pedoman bagi Pengelola Pendidikan dan Latihan. Pustaka Dian. Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
