Jumat, 21 November 2008

MERANGSANG AKTIVITAS BELAJAR MANDIRI

MERANGSANG AKTIVITAS BELAJAR MANDIRI
DENGAN STRATEGI “PEMBERIAN TUGAS TERPADU “

Scolastika Mariani , Sunarmi
FMIPA, Universitas Negeri Semarang

ABSTRAK .

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang menerapkan belajar mandiri dengan strategi “pemberian tugas terpadu” (sebagai variabel yang diteliti) pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UNNES Semester V.
Penelitian tindakan kelas ini diterapkan pada mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang Semester V yang menempuh matakuliah Statistika Matematika II. Data dianalisis secara deskriptif untuk hasil observasi dan membandingkan pretes dengan postes menggunakan uji t. Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus, tiap siklus dilaksanakan mulai perencanaan, persiapan tindakan , pelaksanaan tindakan berdasarkan skenario pembelajaran yang sebelumnya telah disusun , pemantauan dengan lembar observasi untuk mahasiswa dan dosen , refleksi, evaluasi dan dilakukan penyimpulan-penyimpulan.
Hasil penelitian adalah sebagai berikut : secara umum ada peningkatan ketrampilan-ketrampilan menyelesaikan soal pada mahasiswa yaitu : kemampuan menganalisis masalah /soal untuk mencari cara penyelesaian, kelancaran mengerjakan soal-soal, kecermatan mengambil langkah-langkah dalam mengerjakan soal (dengan mengevaluasi jawaban soal-soal) dan kreativitas menemukan trik-trik dalam menyelesaikan soal-soal, beberapa aspek yang meningkat pada dosen antara lain : semangat dan kemampuan dosen dalam berkomunikasi dan menciptakan komunikasi yang timbal balik, semangat dan kemampuan dosen membimbing mahasiswa dalam mengerjakan soal-soal dan kemampuan dosen menyemangati (memberi dorongan secara emosional) kepada mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Nilai pretes berbeda secara statistik terhadap nilai postes pada siklus I, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan, yaitu rata-rata nilai pretes siklus I = 70 dan nilai postes siklus I = 74, Hasil analisis pada siklus II mirip dengan hasil Siklus I, nilai pretes berbeda secara statistik dengan nilai postes pada siklus II, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan, rata-rata nilai pretes siklus II = 75,6667 dan nilai postes siklus II = 79,5556 , dapat disimpulkan ada kenaikan, tetapi tidak begitu berarti antara nilai pretes dan postes siklus II.

Kata Kunci : Belajar mandiri dengan strategi “pemberian tugas terpadu”.

PENDAHULUAN

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang diterapkan di Jurusan Matematika UNNES. Yang melatar belakangi masalah penelitian ini adalah :
1. Keprihatinan peneliti sebagai dosen di Universitas Negeri Semarang tentang prestasi mahasiswa yang kurang optimal. Diduga penyebabnya adalah kekurang-mampuan para mahasiswa mengelola, memotivasi, mengatur, mendisiplin diri dalam aktivitas belajar mandiri, sebab mahasiswa adalah orang dewasa yang diharapkan mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki sebaik mungkin, tanpa ketergantungan kepada dosen atau teman sebagai sumber belajar yang sangat terbatas.
2. Kemungkinan juga penyebabnya adalah dosen yang cenderung mengabaikan tugas mandiri mahasiswa atau persepsi para dosen yang kurang tepat tentang belajar mandiri, bahwa belajar mandiri merupakan usaha mengisolasi mahasiswa dari bimbingan dosen sehingga dosen sama sekali lepas dari proses belajar mahasiswa dan strategi dosen dalam pemberian tugas kurang terprogram, evaluasi proses belajar tidak serius, dan sebagainya.
3. Belajar mandiri membutuhkan kesiapan kondisi kognitif, afektif dan psikomotor serta fasilitas tertentu, dosen sebagai fasilitator dan pembimbing mahasiswa dalam belajar mandiri diharapkan memahami kondisi awal mahasiswa dan merencanakan benar-benar program belajar mandiri meliputi berbagai aspek dalam bentuk pemberian tugas dan teknik mengevaluasi tugas secara terpadu.
4. Dari daftar hadir mahasiswa di Perpustakaan baik Pusat maupun Jurusan secara umum maupun secara khusus yaitu mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika, tampak masih sedikit mahasiswa yang memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana dan sumber belajar, padahal belajar mandiri dengan menggunakan sarana perpustakaan dan sarana-sarana lain strategis untuk memaksimalkan hasil belajar.
5. Tidak mungkin mengandalkan perkuliahan tatap muka dengan waktu yang terbatas untuk menuntaskan belajar apalagi mengharapkan mahasiswa memiliki wawasan yang lebih luas dari apa yang ditargetkan dosen dalam tujuan instruksional perkuliahan, kecuali mahasiswa mencari dan mendalami sendiri materi dari sumber-sumber lain melalui belajar mandiri.
Dari uraian diatas muncul permasalahan yaitu :
1. Apakah pemberian tugas mandiri mahasiswa secara terpadu dengan memperhatikan berbagai aspek meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa?
2. Apakah Lembaran Tugas Mandiri yang diberikan mampu merangsang mahasiswa menggali informasi sebanyak-banyaknya dari Perpustakaan dan sumber belajar lain ?
3. Bagaimana hasil pemantauan dengan Lembar Observasi terhadap proses belajar mandiri terpadu tersebut di atas dipandang dari sudut mahasiswa dan dosen?
Belajar mandiri didefinisikan sebagai usaha individu mahasiswa yang otonomi untuk mencapai suatu kompetensi akademis (Kozma, Belle, Williams, 1978: 201). Ketrampilan ini jika sudah dimiliki, dapat diterapkan dalam berbagai situasi, tidak hanya terbatas pada satu mata kuliah. Dengan ketrampilan tersebut mahasiswa akan mampu mengatasi tantangan baru tanpa ketergantungan pada pemecahan masalah tradisional atau pada orang lain. Belajar mandiri tidak sama dengan “pengajaran individu” (individualized instruction). Personalized System of Instruction (Keller), Computer Assisted Instruction, Programmed Instruction (Skinner) merupakan contoh dari pengajaran individu, namun bukan belajar mandiri. Walaupun demikian, sistem pengajaran individu merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan proses belajar mandiri ma hamahasiswa. Belajar mandiri memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menentukan tujuan belajarnya, merencanakan proses belajarnya, menggunakan sumber-sumber belajar yang dipilihnya, membuat keputusan-keputusan akademis, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang dipilihnyauntuk mencapai tujuan belajarnya. (Brookfield, 1984: 50). Mahasiswa secara aktif berpartisipasi dalam menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara belajarnya. Belajar mandiri bukan merupakan usaha mengisolasi mahasiswa dari bimbingan dosen, karena dosen berfungsi sebagai sumber, pemandu dan memberi semangat. Belajar mandiri menunjukkan bahwa mahasiswa tidak tergantung pada supervisi dan pengarahan dosen yang terus menerus, tetapi mahasiswa juga mempunyai kreativitas dan inisiatif sendiri, serta mampu untuk bekerja sendiri dengan merujuk pada bimbingan yang diperolehnya (Self Directed Learning, Knowles, 1975: 23). Ketidakhadiran dosen, tidak adanya pertemuan tatap muka di kelas, dan ketidakhadiran teman-teman sesama mahasiswa bukan merupakan ciri utama belajar mandiri. Yang menjadi ciri utama dalam belajar mandiri adalah pengembangan dan peningkatan ketrampilan dan kemampuan mahasiswa untuk melakukan proses belajar secara mandiri, tidak tergantung pada faktor-faktor dosen, kelas, teman, dll. Peran utama dosen dalam belajar mandiri adalah sebagai konsultan dan fasilitator, bukan sebagai otoritas dan satu-satunya sumber ilmu.
Dalam belajar mandiri , mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang besar atas proses belajarnya. Belajar mandiri mengharuskan mahasiswa menyelesaikan suatu tugas atau masalah melalui analisis, sintesis dan evaluasi suatu topik matakuliah secara mendalam, kadang-kadang juga melalui suatu kombinasi antara pengetahuaanya dengan pengetahuan yang diperoleh dari matakuliah lain. (Adderly & Ashwin, 1976). Dalam belajar mandiri mahasiwa mendapatkan pengalaman dan ketrampilan dalam hal penelusuran literatur, penelitian, analisis dan pemecahan masalah dan mereka mendapat kepuasan belajar melalui tugas-tugas yang diselesaikannya. Yang lebih penting lagi, ialah bahwa belajar mandiri dapat digunakan untuk mencapai tujuan akhir dari pendidikan, yaitu mahasiswa dapat menjadi dosen bagi dirinya sendiri.
Aplikasi belajar mandiri menurut Paulina Pannen dalam “Belajar Mandiri” mencakup beberapa aspek, yaitu :
a. Materi
Penerapan belajar mandiri adalah untuk mencapai tujuan instruksional berdasarkan ranah kognitif dari jenjang terendah sampai tertinggi, misalnya menurut taksonomi Bloom dari jenjang pengetahuan sampai evaluasi. Tujuan akhir belajar mandiri adalah pengembangan kompetensi intelektual mahasiswa. Belajar mandiri dapat membantu mahasiswa menjadi seseorang yang terampil dalam memecahkan masalah, menjadi manajer waktu yang unggul dan menjadi pembelajar yang trampil dalam belajar.
b. Mahasiswa
Mahasiswa dapat belajar mandiri jika ia telah menguasai ketrampilan-ketrampilan prasyarat, misalnya ketrampilan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian mahasiswa memerlukan bantuan dosen untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan prasyarat. Tidak berarti hanya mahasiswa senior yang sudah mampu belajar mandiri. Mahasiswa yang mampu belajar mandiri adalah mahasiswa yang mampu mengontrol dirinya sendiri, mempunyai motivasi belajar yang tinggi, yakin akan dirinya, mempunyai orientasi/ wawasan yang luas, dan luwes. Biasanya mahasiswa yang luwes, mandiri dan tidak konformis akan dapat belajar mandiri. Namun dukungan dan bimbingan dosen biasanya tetap diperlukan oleh mahasiswa yang sudah dapat belajar mandiri.
c. Dosen
Peran dosen dalam proses belajar mandiri mahasiswa sangat penting dan sensitif. Dosen harus mampu memahami dan mengerti tujuan belajar mahasiswa, tanpa harus mengubah tujuan belajar mahasiswa menjadi tujuan pengajaran dosen, dosen harus membantu mahasiswa untuk menerjemahkan tujuan itu menjadi langkah-langkah belajar yang operasional dan membantu mahasiswa menerapkan langkah-langkah tersebut. Penentuan tujuan, sumber belajar, proses belajar, dan evaluasi harus dilakukan oleh dosen bersama mahasiswa. Kebutuhan dan harapan dari kedua belah pihak harus diperhitungkan dalam proses penentuan tersebut. Dosen juga diharapkan mempunyai waktu khusus untuk berdiskusi dan mengevaluasi hasil belajar mandiri mahasiswa.
4. Lingkungan
Lingkungan yang mendukung proses belajar mandiri adalah lingkungan yang menantang, terbuka pada resiko, luwes, interdisiplin, dan tidak tradisional. Belajar mandiri memerlukan waktu yang dapat mengakomodasi kesalahan-kesalahan konsep dan memungkinkan terjadinya efek yang kumulatif. Dalam hal ini dosen harus memberikan waktu yang cukup serta penghargaan yang cukup agar mahasiswa dapat belajar mandiri.
Beberapa strategi Belajar Mandiri adalah sebagai berikut :
1. Cara Pengajaran
Pengembangan ketrampilan belajar mandiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dosen membekali mahasiswa dengan strategi kognitif, dan dosen membimbing mahasiswa melalui kontrak perkuliahan. Berbekal strategi kognitif dan kontrak perkuliahan, mahasiswa akan melalui proses belajar secara mandiri. Dalam hal ini proses belajar yang akan dilalui adalah proses belajar yang sudah disetujui oleh mahasiswa dan dosen terutama mengenai topik, tujuan instruksional dan penilaian instruksionalnya.
2. Tujuan Belajar Mandiri
Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah penentuan tujuan proses belajar mandiri dari suatu matakuliah, apakah untuk pencapaian ketrampilan atau pengetahuan tertentu atau untuk pengembangan kebiasaan dan kemampuan belajar mandiri ? Jika mahasiswa diasumsikan sudah menguasai strategi kognitif yang dapat digunakan untuk belajar mandiri, maka tujuan proses belajar mandiri dari suatu matakuliah adalah pencapaian ketrampilan dan pengetahuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional matakuliah tersebut. Kondisi ini dapat diterapkan untuk mahasiswa yang sudah terlatih untuk belajar mandiri, atau sudah mempunyai bekal strategi kognitif untuk belajar mandiri ( misalnya mahasiswa yang sudah cukup senior). Untuk mahasiswa yang baru saja masuk ke perdosenan tinggi, atau yang masih berada di semester rendah, maka tujuan proses belajar mandiri dari suatu matakuliah akan lebih banyak untuk pencapaian kebiasaan dan kemampuan belajar mandiri. Dosen perlu menyadari hal ini, sehingga pola bimbingan belajar dan pola pemberian tugas belajar mandiri bagi mahmahasiswa di semester rendah hendaknya berbeda dari pola bagi mahasiswa di semester lanjut. Belajar mandiri dapat juga dikembangkan melalui penggunaan materi instruksional yang tercetak maupun terekam yang diintegrasikan dengan perkuliahan. Contoh materi pekuliahan tercetak adalah handout, outline, tugas membaca terencana, buku kerja, silabus, buku pegangan mahasiswa dan modul. Contoh materi instruksional terekam adalah kaset audio, video, microfische/ microfilm, computer assisted instruction dan video interaktif.
3. Kriteria Evaluasi
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kriteria untuk mengevaluasi proses belajar. Evaluasi harus berfokus pada pencapaian perilaku belajar mandiri yang dapat diukur, termasuk menentukan tujuan belajar, memilih sumber belajar, menganalisis dan mengevaluasi masalah dan memecahkan masalah. Dosen perlu membahas tentang kriteria evaluasi proses dan hasil belajar ketika membuat kontrak perkuliahan dengan mahasiswa, sehingga jelas bagi mahasiswa tentang kriteria keberhasilan mereka. Agar proses belajar lebih efektif, mahasiswa perlu menerapkan cara belajar yang membuat dirinya terlibat secara langsung, menunjukkan aktivitas mental dan fisiknya selama proses belajar tersebut. (Paulina Pannen, 1997: 25)
Gagne (1974) mengidentifikasi delapan fase psikologis pokok yang terjadi dalam diri setiap orang yang sedang belajar, yakni : fase motivasi (afektif), fase pemerhatian (afektif), fase pemerolehan (kognitif), fase penyimpanan (kognitif), fase pengingatan (kognitif), fase generalisasi (kognitif), fase kinerja (psikomotor), fase umpan balik (kognitif & psikomotor), fase-fase ini harus dilalui mahasiswa agar dapat menyelesaikan tugas mandiri yang diberikan dosen dengan baik, yang dalam penelitian ini disebut sebagai kondisi awal prasyarat pengerjaan tugas mandiri.
METODE
Subyek Penelitian ini adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang Program Studi Pendidikan Matematika Semester V yang menempuh matakuliah Statistika Matematika II. Variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah : (1). kinerja dosen selama perkuliahan dengan pemberian tugas mandiri mahasiswa secara terpadu dengan memperhatikan berbagai aspek meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor, (2). hasil belajar mahasiswa, (3). Kinerja mahasiswa selama perkuliahan dan proses belajar mandiri terpadu tersebut di atas. Data Variabel (1). kinerja dosen selama perkuliahan dengan pemberian tugas mandiri mahasiswa secara terpadu dengan memperhatikan berbagai aspek meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor diambil dengan Lembar Observasi, variabel (2). hasil belajar mahasiswa diambil dengan tes, variabel (3). kinerja mahasiswa selama perkuliahan dan proses belajar mandiri terpadu tersebut di atas diambil dengan Lembar Observasi. Data kinerja dosen selama perkuliahan dengan pemberian tugas mandiri mahasiswa secara terpadu dengan memperhatikan berbagai aspek meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor dan kinerja mahasiswa selama perkuliahan dan proses belajar mandiri terpadu tersebut dianalisis secara deskriptif dan hasil belajar mahasiswa dianalisis dengan uji t.
Untuk menjawab permasalahan diatas, ada beberapa faktor yang akan diselidiki. Faktor-faktor tersebut adalah :
· Faktor Mahasiswa : Akan diselidiki kondisi awal mahasiswa dengan menggunakan pre-tes (kognitif dan psikomotor) dan pedoman wawancara (afektif), sejauh mana keterlibatan dan partisipasi mahasiswa dalam proses belajar mandirinya diamati dengan pedoman pemantauan tugas, dan diselidiki ada tidaknya kenaikan hasil belajar mahasiswa setelah diterapkan “Pemberian Tugas Terpadu”, dengan membandingkan pre-tes dan pos-tes.
· Faktor Dosen : Mengamati kerja dosen (Peneliti) sebagai perencana, fasilitator, dan evaluator program perkuliahan mandiri mahasiswa dengan “Pemberian Tugas Terpadu” , diamati dengan pedoman observasi sistematis.
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri 2 siklus . Tiap siklus dilaksanakan mulai perencanaan, persiapan tindakan , pelaksanaan tindakan , pemantauan, refleksilus, dan dilakukan penyimpulan-penyimpulan.
a. Perencanaan
· Menyusun tujuan instruksional.
· Membuat skenario perkuliahan mandiri mahasiswa.
· Menyusun pre-tes dan pos-tes
· Mendesain Pedoman Pemantauan belajar mandiri mahasiswa.
· Mendesain Pedoman Observasi Sistematis bagi kerja dosen selama Pelaksanaan Tindakan.
b. Persiapan Tindakan
· Melaksanakan pre-tes.
· Melaksanakan wawancara pada mahasiswa.
· Analisis pre-tes dan wawancara untuk menentukan karakteristik tugas mandiri yang diberikan pada mahasiswa.
· Penyusunan Tugas Mandiri bagi mahasiswa.
· Mempersiapkan media dan alat bantu yang diperlukan.
· Memberikan pengarahan kepada mahasiswa tentang hakekat belajar mandiri dan tentang tugas yang akan diberikan.
c. Pelaksanaan Tindakan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario yang direncanakan dan satuan perkuliahan yang dibuat, menugasi mahasiswa dengan tugas mandiri yang telah didesain.
d. Observasi
Pada tahap ini, mahasiswa menyelesaikan tugas mandiri dan dosen melakukan pemantauan (dengan Pedoman Pemantauan) terhadap kerja mahasiswa, sementara dosen lain (peneliti) mengamati kerja dosen sebagai fasilitator yang memberi tugas mandiri mahasiswa (dengan Pedoman Observasi Sistematis). Selanjutnya nilai pre-tes dan pos-tes.
e. Analisis, Refleksi dan Evaluasi
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh tim peneliti, kemudian dosen dapat merefleksi diri tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal dosen dan mahasiswa. Kemudian untuk siklus berikutnya diadakan perbaikan-perbaikan bilaman perlu secara kualitas dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi
Secara umum aspek yang diobservasi pada mahasiswa ada peningkatan, terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan ketrampilan-ketrampilan menyelesaikan soal yaitu : kemampuan menganalisis masalah /soal untuk mencari cara penyelesaian, kelancaran mengerjakan soal-soal, kecermatan mengambil langkah-langkah dalam mengerjakan soal (dengan mengevaluasi jawaban soal-soal) dan kreativitas menemukan trik-trik dalam menyelesaikan soal-soal. Hal ini dapat dipahami sebab memang dalam tindakan kelas mahasiswa diberi stimuli yang bervariasi untuk menyelesaikan tugas-tugas mandiri, antara lain sebelum perkuliahan suatu topik, dijelaskan kegunaan topik tersebut untuk topik-topik lain dalam matematika atau kegunaannya dalam kehidupan sehari–hari, untuk soal-soal yang relatif sukar diberi sedikit petunjuk dan mahasiswa sering ditanya tentang kesulitannya dalam mengerjakan tugas mandiri bila bertemu diluar perkuliahan untuk memotivasi meskipun bila waktunya mendesak bertanyanya sambil lalu sudah menambah semangat Pembahasan Hasil Observasi untuk Dosen mereka.
Tidak banyak perubahan dan peningkatan aspek-aspek yang diobservasi pada dosen, beberapa hal meningkat sehubungan dengan tuntutan penelitian ini yaitu hal-hal yang berkaitan dengan pemberian tugas terutama peningkatan pemberian stimuli pada mahasiswa agar lebih bersemangat dan gigih mengerjakan soal-soal atau tugas yang umumnya tidak mudah, antara lain : semangat dan kemampuan dosen dalam berkomunikasi dan menciptakan komunikasi yang timbal balik, semangat dan kemampuan dosen membimbing mahasiswa dalam mengerjakan soal-soal dan kemampuan dosen menyemangati (memberi dorongan secara emosional) kepada mahasiswa dalam proses belajar mengajar.
Uji t untuk Nilai Pre-tes dan Pos-tes Siklus I

Tabel 1. Ringkasan Perhitungan Siklus I

Ringkasan Perhitungan Siklus I

Rata- rata
N
Simpangan Baku
Rata-rata Galat Baku
Siklus I
Pos-tes
74.0000
45
11.9469
1.7809
Pre-tes
70.0000
45
12.0133
1.7908

Tabel 2. Ringkasan Perhitungan Korelasi Siklus I

Ringkasan Perhitungan Korelasi


N
Korelasi
Signifikansi
Siklus I
Pos-tes & Pre-tes
45
.412
.005

Tabel 3. Ringkasan Perhitungan Uji t Siklus I

Ringkasan Perhitungan Uji t


Perbedaan Pasangan
t
dk
Taraf Signifikansi
(2 ekor)
Rata- rata
Simpangan Baku
Rata- rata Galat Baku
95% Interval Konfidensi
Bawah

Atas
Siklus I
Postes - Pretes
4.0000
12.9948
1.9371
9.594E-02
7.9041
2.065
44
.045

Uji t untuk Nilai Pre-tes dan Pos-tes Siklus II

Tabel 4. Ringkasan Perhitungan Siklus II
Ringkasan Perhitungan Siklus II

Rata- rata
N
Simpangan Baku
Rata-rata Galat Baku
Siklus II
Pos-tes
79.5556
45
8.6486
1.2893
Pre-tes
75.6667
45
8.5679
1.2772

Tabel 5. Ringkasan Perhitungan Korelasi Siklus II

Ringkasan Perhitungan Korelasi


N
Korelasi
Signifikansi
Siklus II
Pos-tes & Pre-tes
45
.257
.088

Tabel 6. Ringkasan Perhitungan Uji t Siklus II

Ringkasan Perhitungan Uji t


Perbedaan Pasangan
t
dk
Taraf Signifikansi
(2 ekor)
Rata- rata
Simpangan Baku
Rata- rata Galat Baku
95% Interval Konfidensi
Bawah

Atas
Siklus II
Postes - Pretes
3.8889
10.4929
1.5642
.7365
7.0413
2.486
44
.017

Perhatikan Tabel 3. , taraf signifikansi untuk uji t = 0,045 yang harganya kurang dari 0,05 tetapi lebih dari 0,01 (harga a) berarti nilai t hitung pada daerah penolakan, tetapi tidak ditolak dengan kuat sebab untuk a = 0,01 nilai t hitung pada daerah penerimaan. Sehingga dapat disimpulkan nilai pretes berbeda secara statistik dengan nilai postes pada siklus I, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan. Perhatikan pula Tabel 1. bahwa rata-rata nilai pretes siklus I = 70 dan nilai postes siklus I = 74, tampak nilai postes secara nominal berbeda dengan nilai pretes, secara statistik berbeda tetapi tidak sangat berbeda. Dapat disimpulkan ada kenaikan, tetapi tidak begitu berarti antara nilai pretes dan postes siklus I. Dari hasil pengamatan , perenungan dan diskusi tim peneliti, dapat disimpulkan penyebab hasil tes di atas menjadi demikian, yaitu antara lain karena mahasiswa sudah terbiasa menerima tugas-tugas, baik tugas terstruktur maupun tugas mandiri dan penelitian tindakan kelas ini diterapkan pada mahasiswa semester atas yang menempuh matakuliah Statistika Matematika II, umumnya mahasiswa tersebut sudah dewasa baik secara usia maupun kepribadian sehingga dengan stimuli yang diberikan untuk mengerjakan tugas-tugas mandiri mereka tidak sangat mempengaruhi kinerja maupun belajar mereka selama mengerjakan tugas mandiri. Kepribadian mahasiswa tersebut di atas sudah dewasa sehingga disiplin diri mereka sudah terbentuk, emosional mereka sudah mulai stabil, kesadaran mereka sudah tinggi tentang kuliah dan masa depan, sehingga stimuli yang diberikan memang berpengaruh tetapi tidak begitu tinggi.
Perhatikan Tabel 6. , taraf signifikansi = 0,017 yang harganya kurang dari 0,05 tetapi lebih dari 0,01 (harga a) berarti nilai t hitung pada daerah penolakan, tetapi tidak ditolak dengan kuat sebab untuk a = 0,01 nilai t hitung pada daerah penerimaan. Hasil analisis ini mirip dengan hasil Siklus I. Sehingga dapat disimpulkan nilai pretes berbeda secara statistik dengan nilai postes pada siklus II, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan. Perhatikan pula Tabel 4, bahwa rata-rata nilai pretes siklus II = 75,6667 dan nilai postes siklus II = 79,5556 , tampak nilai postes secara nominal berbeda dengan nilai pretes, secara statistik berbeda tetapi tidak sangat berbeda. Dapat disimpulkan ada kenaikan, tetapi tidak begitu berarti antara nilai pretes dan postes siklus II.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu :
1. Secara umum ada peningkatan ketrampilan-ketrampilan menyelesaikan soal pada mahasiswa yaitu : kemampuan menganalisis masalah /soal untuk mencari cara penyelesaian, kelancaran mengerjakan soal-soal, kecermatan mengambil langkah-langkah dalam mengerjakan soal (dengan mengevaluasi jawaban soal-soal) dan kreativitas menemukan trik-trik dalam menyelesaikan soal-soal.
2. Tidak banyak perubahan dan peningkatan aspek-aspek pada dosen, beberapa hal yang meningkat antara lain : semangat dan kemampuan dosen dalam berkomunikasi dan menciptakan komunikasi yang timbal balik, semangat dan kemampuan dosen membimbing mahasiswa dalam mengerjakan soal-soal dan kemampuan dosen menyemangati (memberi dorongan secara emosional) kepada mahasiswa dalam proses belajar mengajar.
3. Nilai pretes berbeda secara statistik dengan nilai postes pada siklus I, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan, yaitu rata-rata nilai pretes siklus I = 70 dan nilai postes siklus I = 74, hal ini disebabkan antara lain karena mahasiswa sudah terbiasa menerima tugas-tugas, baik tugas terstruktur maupun tugas mandiri dan penelitian tindakan kelas ini diterapkan pada mahasiswa semester atas yang menempuh matakuliah Statistika Matematika II, umumnya mahasiswa tersebut sudah dewasa baik secara usia maupun kepribadian sehingga dengan stimuli yang diberikan untuk mengerjakan tugas-tugas mandiri mereka tidak sangat mempengaruhi kinerja maupun belajar mereka selama mengerjakan tugas mandiri.
4. Hasil analisis siklus II mirip dengan hasil Siklus I, nilai pretes berbeda secara statistik dengan nilai postes pada siklus II, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan, rata-rata nilai pretes siklus II = 75,6667 dan nilai postes siklus II = 79,5556 , dapat disimpulkan ada kenaikan, tetapi tidak begitu berarti antara nilai pretes dan postes siklus II.

Dari hasil penelitian ini dapat disarankan beberapa hal :
1. Untuk perkuliahan-perkuliahan yang sukar dan banyak latihan soal/ tugas seperti Statistika Matematika II sangat cocok diterapkan perkuliahan dengan pemberian tugas terpadu, terutama untuk semester-semester rendah yang mahasiswanya masih membutuhkan banyak bimbingan dan stimuli dalam pemecahan-pemecahan masalah atau soal.
2. Dalam perkuliahan dan pemberian tugas baik tugas mandiri maupun tugas terstruktur sebaiknya dosen menerapkan pemberian stimuli yang kompleks meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

DAFTAR PUSTAKA

Houle, C. 1961. The Inquiring Mind. University of Madison Press. Madison.

Lily Budiardjo, Dra., M.Sc. 1997. Dosen dan Pemberian Tugas. (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.

Paulina Pannen, Dr., Ida Malati S.,M.Ed., Drh. 1997. Pendidikan Orang Dewasa (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.

Paulina Pannen, Dr. 1997. Belajar Mandiri (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.

Tamat, T. 1985. Dari Pedagogik ke Andragogik : Pedoman bagi Pengelola Pendidikan dan Latihan. Pustaka Dian. Jakarta.

Tampubolon, Daulat.P. 2001. Perguruan Tinggi Bermutu. PT Gramedia Pusataka Utama. Jakarta.

Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Depdikbud Dirjen Dikti. Jakarta.

1 komentar:

misdalina mengatakan...

bagus deh, tapi kok observasi aktivitas siswa pada proses pembelajaran tersebut tidak dibahas?